Hidup
Syukur Hidup Bahagia
syukur,
secara bahasa, berasal dari kata “Syakara”, yang berarti pujian atas kebaikan,
penuhnya sesuatu. Syukur juga berarti menampakkan sesuatu kepermukaan. Dalam
hal ini, menampakkan nikmat Allah antara lain dalam bentuk memberikan sebagian
nikmat Allah itu kepada orang yang membutuhkan.
“Hakikat
syukur adalah pengakuan terhadap nikmat yang telah diberikan Allah yang
dibuktikan dengan ketundukkan kepadanya. Jadi, syukur itu adalah mempergunakan
nikmat Allah menurut kehendak Allah sebagai pemberi nikmat. Karena itu, dapat
dikatakan bahwa syukur yang sebenar-benarnya adalah mengungkapkan pujian kepada
Allah dengan lisan, mengakui dengan hati akan nikmat Allah, dan mempergunakan
nikmat itu sesuai dengan kehendak Allah.
Syukur
merupakan kualitas hati yang harus diraih dan dimiliki oleh setiap muslim.
Dengan bersyukur, kita akan senantiasa diliputi rasa damai, tentram, dan
bahagia. Sebaliknya, kufur nikmat akan senantiasa membebani kita. Kita akan
selalu merasa kurang dan tidak bahagia.
Adadua hal yang sering membuat kita tak
bersyukur.
Pertama,
kita sering memfokuskan diri pada apa yang kita inginkan, bukan pada apa ynag
kita miliki. Katakanlah, kita sudah memiliki sebuah rumah, kendaraan, pekerjaan
tetap, dan pasangan yang terbaik, tapi kita masih merasa kurang.
Pikiran
kita dipenuhi bebagai target dan keinginan. Kita begitu terobsesi ingin
memiliki rumah yang besar dan indah, mobil mewah, dan pekerjaan yang lebih
banyak mendatangkan uang. Kita ingin ini dan itu, kita terus memikirkan ingin
mendapatkannya. Akhirnya, pikiran, waktu, dan energy kita terkuras untuk
memperturutkan keinginan diri kita yang tak pernah puas. Setelah
mendapatkannya, kita ingin yang lebih lagi. Jadi, betapa pun banyak harta yang
kita miliki, kita tidak pernah menjadi “kaya” dalam arti sebenarnya.
Padahal,
Rasulullah saw. telah bersabda, “Bukanlah kekayaan itu karena banyak harta
benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kaya hati.” (HR. Bukhari dan
Muslim).
Manusia
memang memiliki naluri tidak pernah merasa puas dengan apa yang telah dimiliki.
Ia selalu bernafsu mendapatkan segala yang diinginkannya. Tetapi bukan berarti
naluri itu tidak bisa dikendalikan. Naluri tidak pernah puas adalah salah satu
bagian dari hawa nafsu yang selalu mengajak pada kejelekan. Jika hawa nafsu
saja bisa dikendalikan, maka sudah tentu rasa tidak pernah puas juga bisa
dikendalikan, yaitu dengan cara bersyukur.
Perhatikanlah
hadits Rasulullah saw yang artinya,
“Abdullah
bin Amr ra. Berkata, ‘Rasulullah saw. bersabda, ‘sungguh, beruntung orang yang
berserah diri, dikaruniai rezeki yang cukup, dan merasa cukup dengan pemberian
Allah kepadanya.” (HR. Muslim).
Kedua,
kecendrungan
membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita meraa bahwa orang lain
lebih beruntung. Kemanapun kita pergi, selalu ada orang yang lebih pintar,
lebih tampan, lebih cantik, dan lebih kaya dari kita.
Ada
rumus sederhana, tapi jitu agar kita menjadi manusia yang bersyukur, yaitu
melihat kebawah untuk hal-hal yang bersifat fisik dan materi duniawi. Jika
tergolong orang miskin, lihatlah kebawah, ternya masih ada orang yang lebih
miskin dari kita.
Jika
saat ini kita sedang sakit, lihatlah kebawah, ternyata diluar sana masih banyak
orang yang lebih sakit dari kita. Jika tidak memiliki wajah yang rupawan, lihatlah
kebawah, ternyata wajah kita masih lebih baik dibandingkan kebanyakan orang.
Hal ini akan menimbulkan rasa syukur pada diri kita, ternyata kita masih lebih
beruntung dibandingkan orang lain.
Dalam
konteks ini, Rasulullah saw bersabda yang artinya.’ “Lihatlah orang yang
dibawah kalian dan janganlah melihat orang yang diatas kalian, karena yang
demikian itu lebih layak bagi kalian untuk tidak memandang rendah nikmat Allah
yang dilimpahkan kepada kalian.” (HR. Muslim dan Tirmidzi).
Sebaliknya,
lihatlah keatas dalam perkara-perkara ibadah dan ukhrawi. Jika merasa ibadah
kita sudah cukup baik, lihatlah keatas, ternyata sangat banyak orang yang
kuantitas dan kualitas ibadahnya lebih baik dari kita. Jika kita merasa telah
memiliki ilmu yang cukup, lihatlah keatas, ternyata diluar sana sangat banyak
orang yang lebih berilmu dari kita. Hal ini akan mendorong dan memotivasi kita
untuk lebih meningkatkan kualitas diri dan ibadah kita.
Kesimpulan___
Ada dua hal yang membuat kita tidak
bersyukur, pertama, kita mempokuskan pikiran pada apa yang diinginkan, bukan
pada apa yang dimiliki. Kedua, kecenderungan membandingkan diri kita dengan
orang lain.
Hidup akan lebih bahagia dan indah
jika kita dapat menikmati apa yang dimiliki. Rahasia kenikmatan bukan terletak
pada kenikmatan tersebut, tetapi terletak pada rasa syukurnya.
“Maka ingatlah kepadaku, Aku pun akan
ingat kepadamu. Bersyukurlah kepadaku, dan janganlah kamu ingkar kepadaku”.
(QS. Al-Baqarah {2} : 152)
Hidup akan tersa indah dan bahagia bila
kita menjadi manusia yang bersyukur. Karena, syukur mengajarkan kita untuk
selalu memaknai setiap perisitiwa dalam kehidupan dari sudut pandang
positif (husnudzan). Karena itulah,
syukur akan membuat hati kita senantiasa tentram dan damai. Syukur juga akan
mengantarkan kita pada pencapaian kesuksesan di dunia dan akhirat.
DASHYATNYA SYUKUR
Muhammad Syafi’ie el-Bantanie

Tidak ada komentar:
Posting Komentar