Senin, 29 April 2013

SYUKUR (Hidup Syukur Hidup Bahagia)




Hidup Syukur Hidup Bahagia
syukur, secara bahasa, berasal dari kata “Syakara”, yang berarti pujian atas kebaikan, penuhnya sesuatu. Syukur juga berarti menampakkan sesuatu kepermukaan. Dalam hal ini, menampakkan nikmat Allah antara lain dalam bentuk memberikan sebagian nikmat Allah itu kepada orang yang membutuhkan.
“Hakikat syukur adalah pengakuan terhadap nikmat yang telah diberikan Allah yang dibuktikan dengan ketundukkan kepadanya. Jadi, syukur itu adalah mempergunakan nikmat Allah menurut kehendak Allah sebagai pemberi nikmat. Karena itu, dapat dikatakan bahwa syukur yang sebenar-benarnya adalah mengungkapkan pujian kepada Allah dengan lisan, mengakui dengan hati akan nikmat Allah, dan mempergunakan nikmat itu sesuai dengan kehendak Allah.
Syukur merupakan kualitas hati yang harus diraih dan dimiliki oleh setiap muslim. Dengan bersyukur, kita akan senantiasa diliputi rasa damai, tentram, dan bahagia. Sebaliknya, kufur nikmat akan senantiasa membebani kita. Kita akan selalu merasa kurang dan tidak bahagia.
Adadua hal yang sering membuat kita tak bersyukur.
Pertama, kita sering memfokuskan diri pada apa yang kita inginkan, bukan pada apa ynag kita miliki. Katakanlah, kita sudah memiliki sebuah rumah, kendaraan, pekerjaan tetap, dan pasangan yang terbaik, tapi kita masih merasa kurang.
Pikiran kita dipenuhi bebagai target dan keinginan. Kita begitu terobsesi ingin memiliki rumah yang besar dan indah, mobil mewah, dan pekerjaan yang lebih banyak mendatangkan uang. Kita ingin ini dan itu, kita terus memikirkan ingin mendapatkannya. Akhirnya, pikiran, waktu, dan energy kita terkuras untuk memperturutkan keinginan diri kita yang tak pernah puas. Setelah mendapatkannya, kita ingin yang lebih lagi. Jadi, betapa pun banyak harta yang kita miliki, kita tidak pernah menjadi “kaya” dalam arti sebenarnya.
Padahal, Rasulullah saw. telah bersabda, “Bukanlah kekayaan itu karena banyak harta benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kaya hati.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Manusia memang memiliki naluri tidak pernah merasa puas dengan apa yang telah dimiliki. Ia selalu bernafsu mendapatkan segala yang diinginkannya. Tetapi bukan berarti naluri itu tidak bisa dikendalikan. Naluri tidak pernah puas adalah salah satu bagian dari hawa nafsu yang selalu mengajak pada kejelekan. Jika hawa nafsu saja bisa dikendalikan, maka sudah tentu rasa tidak pernah puas juga bisa dikendalikan, yaitu dengan cara bersyukur.
Perhatikanlah hadits Rasulullah saw yang artinya,
“Abdullah bin Amr ra. Berkata, ‘Rasulullah saw. bersabda, ‘sungguh, beruntung orang yang berserah diri, dikaruniai rezeki yang cukup, dan merasa cukup dengan pemberian Allah kepadanya.” (HR. Muslim).
Kedua, kecendrungan membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita meraa bahwa orang lain lebih beruntung. Kemanapun kita pergi, selalu ada orang yang lebih pintar, lebih tampan, lebih cantik, dan lebih kaya dari kita.
Ada rumus sederhana, tapi jitu agar kita menjadi manusia yang bersyukur, yaitu melihat kebawah untuk hal-hal yang bersifat fisik dan materi duniawi. Jika tergolong orang miskin, lihatlah kebawah, ternya masih ada orang yang lebih miskin dari kita.
Jika saat ini kita sedang sakit, lihatlah kebawah, ternyata diluar sana masih banyak orang yang lebih sakit dari kita. Jika tidak memiliki wajah yang rupawan, lihatlah kebawah, ternyata wajah kita masih lebih baik dibandingkan kebanyakan orang. Hal ini akan menimbulkan rasa syukur pada diri kita, ternyata kita masih lebih beruntung dibandingkan orang lain.
Dalam konteks ini, Rasulullah saw bersabda yang artinya.’ “Lihatlah orang yang dibawah kalian dan janganlah melihat orang yang diatas kalian, karena yang demikian itu lebih layak bagi kalian untuk tidak memandang rendah nikmat Allah yang dilimpahkan kepada kalian.” (HR. Muslim dan Tirmidzi).
Sebaliknya, lihatlah keatas dalam perkara-perkara ibadah dan ukhrawi. Jika merasa ibadah kita sudah cukup baik, lihatlah keatas, ternyata sangat banyak orang yang kuantitas dan kualitas ibadahnya lebih baik dari kita. Jika kita merasa telah memiliki ilmu yang cukup, lihatlah keatas, ternyata diluar sana sangat banyak orang yang lebih berilmu dari kita. Hal ini akan mendorong dan memotivasi kita untuk lebih meningkatkan kualitas diri dan ibadah kita.
Kesimpulan___
Ada dua hal yang membuat kita tidak bersyukur, pertama, kita mempokuskan pikiran pada apa yang diinginkan, bukan pada apa yang dimiliki. Kedua, kecenderungan membandingkan diri kita dengan orang lain.
Hidup akan lebih bahagia dan indah jika kita dapat menikmati apa yang dimiliki. Rahasia kenikmatan bukan terletak pada kenikmatan tersebut, tetapi terletak pada rasa syukurnya.
“Maka ingatlah kepadaku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepadaku, dan janganlah kamu ingkar kepadaku”. (QS. Al-Baqarah {2} : 152)

Hidup akan tersa indah dan bahagia bila kita menjadi manusia yang bersyukur. Karena, syukur mengajarkan kita untuk selalu memaknai setiap perisitiwa dalam kehidupan dari sudut pandang positif  (husnudzan). Karena itulah, syukur akan membuat hati kita senantiasa tentram dan damai. Syukur juga akan mengantarkan kita pada pencapaian kesuksesan di dunia dan akhirat.


DASHYATNYA SYUKUR
Muhammad Syafi’ie el-Bantanie





  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar