Cerpen
Getaran
dan Peringatan Mata Hati
Saat
berdekatan denganku aku tersadar ternyata dia mempunyai kekuatan yang luar
biasa sehingga tak mampu aku menahan beban tubuhnya menghindarkan kuku dan jari
jari tangannya dari leherku, ya dia menindih dan mencengkram kuat leherku
sangat kuat sehingga aku kesusahan bernapas dibuatnya.
Takbir
sahadat hanya itu yang selalu kubaca dan aku ucapkan dari mulutku, dengan
sambil berusaha dan berharap semoga Allah membantuku agar terlepas dari
cengkramannya. Semakin keras dan semakin lancang aku bertahmid semakin enggan
juga dia melepasku, dia malah marah kepadaku dan terus mencengkramkan kuku kuku
tajamnya keleherku, aku tak bisa meronta, terdiam, kaku seperti terkena aliran
listrik yang berkekuatan tinggi. Hanya hati kecilku dan mulutku yang mampu
untuk berucap dan memohon ampunan dan perlindungan. Aku tau dia mahluk Allah,
Mahluk yang sama sama diciptakan oleh Allah Aku tau dia hanyalah debu kecil
bagi Allah, aku percaya Allah pasti menolongku.
Ya
sepuluh menit berlalu dan aku terjaga dari tidur. Dengan sadar aku melihatnya
melayang menghilang dan pergi menjauh dariku. Tersenyum dan Istigfar aku bangun
dan berjalan menuju lemari es. Aku ambil segelas Air putih untuk meredakan rasa
hausku dan sekedar untuk menghilangkan rasa ketegangan yang baru saja aku
alami.
Mati,
seandainya tadi Adalah malaikat Maut yang mendatangiku, Apa aku siap untuk Mati
tanpa mengucapkan kalimat sahadat itu ? sungguh tak ada hal yang paling dasyhat
didunia ini selain dari pada kematian. Itulah kata kata indah Disaat bibir
kelu. Lidah kaku untuk mengucapkannya hanya pada Allah pikirku tempat meminta
pertolongan.
Mahluk
Ciptaan Allah, ya dia hanya Mahluk ciptaan Allah, mahluk kecil yang jauh tidak
sebanding kekuatannya dengan malaikat malaikat Allah. Ternyata Allah
menginginkan agar hati kecilku tersadar bahwa diantaranya terdapat tanda tanda
kekuasaannya dan Seandainya dia malaikat pencabut nyawa yang dikirimkan Allah
untuk mencabut nyawaku yang telah terjanjikan itu. Seakan akan Aku bisa
merasakan dan baru saja mengalami betapa hebatnya proses sakratul Maut itu.
Menyambut kedatangan mahluk kecil ciptaan Allah dalam tidur saja aku tak
sanggup melawannya, Apalagi melawan kedatangan malaikat Maut izrail sang
pencabut nyawa, secara sadar dan tidak tersadar sekalipun, Aku tidak akan siap
menyambut kedatangannya, kedasyatannya kematian, apa yang bisa aku bawa Apa
yang bisa Aku harapkan dan Apa yang bisa aku banggakan. Astagfrullah.
Aku
bersyukur atas kekuasaan dan kebesaran Allah swt terhadapku, yang telah
menyadarkanku. bagaimana bisa aku menentang kekuasaannya Allah sedangkan
melawan mahluk terkecil ciptaannya saja aku tak sanggup.
Rabby
Awzinii An Asykura Nimatakal Lati An amta Alayya wa Alaa Waalidayya Wa An A mala
Shaalihan Tardaahu Wa Adkhilni Birahmatika Fii Ibadikash Shaalihiin. Ya Tuhanku
berilah aku ilham agar tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah engkau anugerahkan
kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal shaleh
yang engkau ridhoi dan masukkanlah aku dengan rahmat Mu kedalam golongan hamba
hambaMu yang shaleh. Amin
Doaku
mengakhiri catatan kecilku…
Jumat
Pagi, 22 Febuari 2013. 03 : 24
By.
Alan Angganuari

Tidak ada komentar:
Posting Komentar