Kamis, 05 Juni 2014

Terapi terhadap dasyatnya musibah

Terapi terhadap dasyatnya musibah
Allah berfirman :
Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillahi wa innailaihi raji’un”. Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (Al-Baqarah {2}: 155-157)
Dalam Al-Musnad diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda,
“Setiap orang yang tertimpa musibah lalu ia mengucapkan, Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kami akan kembali jua, ya Allah, berikanlah kepadaku pahala atas musibah yang menimpaku ini dan berikanlah kepadaku ganti yang lebih baik darinya,” pasti ia akan mendapatkan pahala dari Allah dengan musibah tersebut dan mendapatkan ganti yang lebih baik lagi darinya.”28
Kalimat diatas adalah ucapan paling ampuh untuk mengobati sakit karena musibah, amat mujarrab bagi orang yang tertimpa musibah di dunia dan di akhirat. Karena kalimat itu mengandung dua pokok penting yang bila diketahui oleh seorang hamba dengan sebaik-baiknya, pasti ia akan terhibur dari musibahnya.
Pokok pertama adalah bahwa seorang hamba, keluarga dan hartanya adalah milik Allah dalam arti sesungguhnya. Semua itu diberikan kepada seorang hamba hanya sebagai pinjaman belaka.
Pokok kedua  : tempat kembali dan berpulangnya seorang hambanya hanyalah kepada Allah, Sang Penguasa yang Al-Haqq. Ia pasti akan meninggalkan dunia dibelakang punggungnya, untuk kembali kepada Allah seorang diri, seperti dahulu ia diciptakan, tanpa sanak saudara, tanpa harta dan tanpa keluarga. Namun yang dibawanya hanyalah kebajikan dan kejahatan. Kalaulah demikian awal keberadaan seorang hamba dan akhir keberadaannya, bagaimana ia harus bergembira sedemikian rupa atas adanya sesuatu, atau bersedih sedemikian rupa karena kehilangan sesuatu! Sugesti seorang hamba kapanpun juga menjadi hal yang paling prinsipil untuk mengobati penyakit ini.
Dianatara kiat penyembuhannya adalah dengan menyadari yang seyakin-yakinnya bahwa segala yang menimpanya tidak akan pernah meleset. Sementara yang tidak akan menimpanya tidak akan pernah mengenainya.
Kiat lainnya adalah dengan memadamkan api musibah melalui peneladanan terhadap sikap orang-orang shalih yang menghadapi musibah.
Kiat lain untuk menyembuhkan penyakit ini adalah dengan menyadari bahwa sekedar rasa duka tidak akan mampu menghilangkannya, bahkan semakin membuatkan menjadi-jadi berlipat ganda.
Kiat lain untuk menyembuhkan penyakit ini adalah dengan menyadari bahwa luputnya pahala sabar dan berserah diri adalah musibah terbesar dalam arti sesungguhnya.
Cara penyembuhan lainnya adalah dengan menyadari bahwa rasa duka itu akan membuat senang musuh dan mempersulit temannya sesama muslim di samping membuat murka Allah.
Cara penyembuhan lainnya adalah dengan menyadari bahwa kesabaran dan harapan akan pahala akan menimbulkan kelezatan dan kesenangan, jauh lebih banyak dari yang bisa diperoleh dengan tidak datangnya musibah menghilangkan apa yang dia miliki. Cukup bagi dirinya untuk mendapatkan Baitul Hamdi yang dibangun di Surga-Nya dengan rasa syukurnya kepada Allah dan istirja’ yang diucapkannya saat tertimpa musibah. Coba lihat, musibah mana yang lebih besar: musibah dunia yang sementara atau musibah hilangnya Baitul Hamdi dan kekalnya di neraka ?
Di anatara kiat penyembuhan terhadap penyakit ini adalah dengan menentramkan hati melalui harapan memperoleh pengganti dari Allah.
Cara terapi lain, dengan menyadari bahwa jatah yang kita terima dari datangnya musibah itu adalah sikap kita terhadapnya. Bila kita meridhainya, kita akan mendapatkan pahala ridha. Kalau kita mengutuknya, kita akan mendapatkan dosa mengutuknya.
Di antara terapi musibah lainnya adalah dengan menyadari bahwa  kalaupun seseorang berduka lara hingga sampai pada puncak kedukaan, akhirnya ia terpaksa bersabar juga. Namun kesabaran semacam itu sama sekali tidak terpuji dan tidak mendapatkan pahala.
Di antara kita penyembuhan lainnya adalah dengan menyadari bahwa obat yang paling manjur buat seseorang adalah melakukan segala yang sesuai dengan yang disukai oleh Allah dan diridhai-Nya.
Kiat terapi yang lain lagi adalah dengan membuat komparasi antara dua bentuk kelezatan yang ada, mana yang terbesar diantara keduanya dan mana yang paling kekal: kelezatan sesuatu yang hilang karena musibah yang dialaminya, atau kelezatan pahala Allah baginya bila bersabar.
Cara terapi lain terhadap musibah adalah dengan menyadari bahwa Allah mengirimkan musibah itu kepadanya bukan untuk membinasakannya, bukan untuk menyiksanya dan juga bukan untuk menyakitinya. Tetapi Allah memberikan cobaan itu untuk menguji kesabaran, keridhaan dan keimanannya. Agar Allah mendengar doa dan penyerahan dirinya kepada-Nya.
Di antara terapi lain adalah dengan menyadari bahwa kalau bukan musibah dan cobaan di dunia ini, tentu seorang hamba akan terkena penyakit ujub dan takabbur, bahkan bisa menimbulkan Fir’aunisme dan kebekuan dalam hatinya. Kesemuanya itu menjadi sebab kebinasaannya cepat atau lambat.
Kiat lain untuk mengobati penyakit musibah adalah dengan menyadari bahwa kepahitan dunia itu sendiri adalah  kemanisan untuk akhirat. Demikianlah Allah mebolak-balikkan keduanya.

28        Diriwayatkan oleh Ahmad VI : 321 dan Muslim (918), dari hadits Ummu Salamah.


Karya              : Ibnu Qayim Al-Jauziyah

Judul Buku      : Sehat Dengan Metode Pengobatan Nabi Saw

Tidak ada komentar:

Posting Komentar