Nabi Musa dan Seekor Burung Elang
Pada suatu hari Nabi Musa
keluar dan berjalan-jalan bersama dengan Yusa’ bin Nun. Tiba-tiba ada seekor
burung putih yang hinggap dipundak Nabi Musa, dan burung itu berkata, “Wahai
Nabi Allah, lindungilah aku dari pembunuhan hari ini.”
Nabi Musa berkata, “Dari siapa?”
Jawab burung itu, “Dari burung elang yang mau memangsaku.”
Burung putih itupun masuk kelengan Nabi Musa. Dan tidak beberapa
lama datanglah burung elang terbang dan menghadap Nabi Musa dan berkata, “Hai
Nabi Musa, janganlah engkau menghalangi aku dari buruanku.”
Kata Nabi Musa, “Aku akan menyembelih seekor kambingku untukmu
sebagai gantinya.”
Jawab burung elang, “Daging kambing tidak cocok bagiku.”
Selanjutnya burung elang itupun berkata, “Sebagai gantinya, aku
ingin memakan kedua matamu saja.”
Jawab Nabi Musa, “Baiklah kalau demikian.”
Kemudian Nabi Musa tidur telentang, dan datanglah burung elang itu
hinggap di dada Nabi Musa dan hendak mematuk dua matanya dengan paruhnya.
Melihat yang demikian itu, Yusa’ bin Nun berkata, “Wahai Nabi Allah,
apakah engkau menganggap enteng dua mata engkau, hanya karena urusan burung ini
saja?”
Maka burung putih itu terbang dari lengan baju Nabi Musa dan burung
elangpun mengejarnya.
Akhirnya kedua burung itupun kembali menghadap kepada Nabi Musa,
seraya berkata seekor diantara keduanya, “Aku sebenarnya adalah Malaikat Jibril
dan kawanku ini adalah Malaikat Mikail. Tuhanmu telah menyuruh kami untuk
mencoba kepadamu bisa bersabarlah engkau terhadap qadha Tuhanmu atau tidak.” (Di
kutip dari “1001 Kisah-kisah Nyata” karya Ahmad Sunarto)
Pelajaran Hidup. Kisah diatas memberikan dua pelajaran yang sangat
penting kepada kita, yaitu:
Setiap dari kita berkewajiban untuk menolong (membantu) orang lain
yang sedang berada dalam kesulitan. Karena siapapun yang mau menolong
saudaranya yang berada dalam kesulitan, niscaya Allah akan menolong dirinya
saat berada dalam kesulitan. Bahkan kita pun diperintahkan untuk mengasihi
makhluk Allah yang lain, seperti binatang dan tumbuhan.
Setiap kita, orang beriman, harus bersabar dan rela terhadap qadha
(Keputusan) Allah. Apapun yang menjadi keputusan Allah kita harus mampu
menerimanya dengan ikhlas. karena kita, manusia, hanya berkewajiban untuk
berikhtiar dan berusaha, tetapi keputusan akhir akan tetap ada di tangan-Nya.
Karena itu, kita harus menyandarkan dan menyerahkan segala sesuatunya kepada
Allah. Ajarilah dirimu untuk menerima segala qadha (keputusan) Allah dengan
ikhlas, niscaya engkau tidak akan pernah merasa gundah dan kecewa, apalagi sampai
merasa stres dan putus asa.
(Mutiara Hikmah Saiful Hadi El-Jutha)
http://ceritateladan.com/
BalasHapus