Istri
adalah pakaian suami, dan sebaliknya, suami juga adalah pakaian dari istri. Karenanya,
masing-masing dari suami-istri harus mampu menjadi pakaian yang bisa
menghangatkan dan menutupi aurat (kekurangan) pasangannya. Seorang istri adalah
orang yang paling berperan besar dalam menentukan sukses dan mengarahkan
kehidupan seorang suami. Istri yang shaleha akan mampu menjadi pelipur lara
saat suami dilanda duka lara. Ia akan menjadi penenang saat suami dirundung
kecemasan dan kegelisahan. Ia akan menjadi penopang di saat suami dilanda kelemahan
dan keputusasaan. Ia akan menjadi selimut yang memberikan kehangatan saat suami
diliputi kepenatan. Ia akan menjadi penasehat sejati saat suami melakukan
kesalahan dan kekhilafan, dan seterusnya. Istri akan selalu menjadi insfirasi
bagi seorang suami.
Itulah mengapa Rasulullah menyatakan, “Dunia ini adalah
perhiasan, dan sebaik-baiknya perhiasan adalah wanita (istri) yang shaleha.”
(H.R. Muslim)
Dalam kesempatan yang lain, beliau juga menyatakan: “Dunia ini
tidak lain hanyalah perhisan semata. Dan tiada satupun dari perhiasan dunia ini
yang lebih utama dibandingkan dengan wanita (Istri) yang shalehah.” (H.R.
Ibnu Majah) Bahkan, sebagai wujud penghormatan kepada istri yang shaleh, beliau
menegaskan: “Barangsiapa yang diberikan rezeki oleh Allah berupa istri yang
shalehah, niscaya Allah telah membantunya (dengan memberinya istri shalehah
itu) atas separuh agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam
mengupayakan separuhnya lagi.” (H.R. Al-Hakim)
Dalam Al-Qur’an, dengan tegas Allah berfirman, “Dan diantara
tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari
jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan
dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang
demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Q.S.
Ar-Rum: 21)
(Mutiara Hikmah Saiful hadi El-Jutha)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar