Rabu, 18 Maret 2015

Ketika Abu Nawas Merasa Lebih Kaya dari Allah



Ketika Abu Nawas  Merasa Lebih Kaya dari Allah
Ingat Abu Nawas? Tokoh kocak yang populer dalam kisah “1001 Malam” dari Dinasti Abbasiyah! Tokoh jenaka ini sangat disukai oleh Khalifah Harun Al-Rasyid, karena humor-humornya yang cerdik dan jenaka. Karenanya, di sela-sela kesibukannya sebagai raja yang adil dan bijaksana, Khalifah Harun Al-Rasyid sering mengundang Abu Nawas, hanya untuk bercanda menyegarkan kembali pikirannya.
Sebagai rakyat kecil, Abu Nawas sering menyelipkan kritiknya lewat humor-humor jenaka hingga mesti mengena, tetapi khalifah tak bisa marah dibuatnya. Seperti dalam kisah berikut ini:
Alkisah, pasar Baghdad yang merupakan tempat ramai orang berdagang, tiba-tiba menjadi heboh gara-gara celotehan Abu Nawas. “Kawan-kawan, hari ini saya sangat membenci perkara yang haq, tetapi menyenangi yang fitnah. Hari ini saya menjadi orang yang kaya, bahkan lebih kaya daripada Allah,” ujar Abu Nawas.
Omongan Abu Nawas ini sangat aneh karena selama ini dia dikenal sebagai orang yang alim dan bertaqwa, meskipun memang suka bersikap jenaka. Karuan saja polisi kerajaan menangkapnya, dan menghadapkannya kepada Khalifah Harun Al-Rasyid.
“Hai Abu Nawas, benarkah engkau berkata begitu?” tanya sang khalifah.
“Benar Tuan,” Jawab Abu Nawas kalem.
“Mengapa engkau berkata begitu, sudah kafirkah engkau?”
“Ah saya kira Khalifah juga seperti saya. Khalifah juga pasti membenci perkara yang haq,” ujar Abu Nawas dengan mimik serius.
“Gila benar engkau!” bentak khalifah mulai marah.
“Jangan keburu marah dulu Khalifah, dengarkan dulu keterangan saya,” kata Abu Nawas meredakan kemarahan sang khalifah.
“Keterangan apa yang ingin engkau dakwahkan. Sebagai seorang muslim, aku membela dan bukan membenci, kamu harus tau itu!” ujar khalifah.
“Tuan, setiap ada orang yang membacakan talqin saya selalu mendengar ucapan bahwa mati itu haq dan neraka itu juga haq. Nah siapakah orangnya yang tak membenci mati dan neraka yang haq itu? Tidakkah Khalifah juga membencinya seperti aku?” katanya.
“Cerdik pula kau ini,” ujar khalifah setelah mendengar penjelasan dari Abu Nawas.
“Tapi apapula maksudmu menyenangi fitnah?” tanya sang khalifah menyelidik.
“Sebentar, khalifah barangkali lupa bahwa di dalam Al-Qur’an Al-Karim disebutkan, bahwa harta benda dan anak-anak kita ini fitnah. Padahal Khalifah menyenangi harta dan anak-anak seperti saya. Benar begitu Khalifah?”
“Ya, memang begitu, tetapi, mengapa kau mengatakan lebih kaya dibanding Allah yang Maha Kaya?” tanya Khalifah Harun Al-Rasyid.
“Saya lebih kaya dari Allah, karena saya mempunyai anak, sedang Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan.”
“itu memang benar, tetapi apa maksudmu berkata begitu ditengah pasar sehingga membuat keonaran?” tanya sang khalifah.
“dengan cara begitu, saya akan di tangkap dan kemudian dihadapkan kepada Khalifah seperti sekarang ini,” Jawabnya kalem.
“Apa perlunya kau menghadap saya?”
“Agar bisa mendapat hadiah dari Khalifah,” jawab Abu Nawas tegas.
“Dasar kau memang orang cerdik,” komentar khalifah.
Sidang yang pada mulanya tegang untuk mengadili Abu Nawas itu, menjadi penuh gelak tawa. Tak lupa Khalifah Harun Al-Rasyid pun menyerahkan uang sebagai hadiah kepada Abu Nawas, dan menyuruhnya pergi meninggalkan istana. Ngeloyorlah Abu Nawas sambil menyimpan uang dinar di sakunya.
“Alhamdulillah dapat rezeki,” gumamnya. (Dikutip dari buku “1001 Kisah-kisah Nyata 3” Ahmad Sunarto)
Pelajaran Hidup
Melalui celotehannya, Abu Nawas ingin mengajarkan tiga hal pokok yang harus kita yakini dalam hidup: kebanyakan manusia itu membenci sesuatu yang haq (benar; pasti terjadi), padahal mereka tidak akan pernah bisa menghindarkan diri darinya. Karena itu, tidak ada jalan lain bagi manusia kecuali harus senantiasa mempersiapkan diri untuk menyambut datangnya perkara yang haq tersebut dengan baik. Bukankah kematian adalah haq, surga dan neraka adalah haq, hari kiamat adalah haq, dan kehidupan akhirat pun haq? Lalu, apa yang telah kita persiapkan untuk menyambutnya?
Kehidupan dunia dengan segala gemerlapnya tidak lain adalah ujian (fitnah) dari Allah. Siapa yang sanggup melepaskan diri dari bujuk rayu gemerlap duniawi, niscaya dialah orang yang akan memperoleh bahagia di sisinya. Sebaliknya, orang yang tergoda oleh gemerlap kehidupan dunia, kemudian ia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengejar kehidupan duniawi, niscaya dialah orang yang akan celaka. Mengapa? Karena dunia dengan segala gemerlapnya adalah sekdar kenikmatan yang semu dan menipu. Ia adalah sesuatu yang fana, yang akan segera sirna dalam sekejap mata. Allah telah berfirman, “kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Q.S. Ali Imran: 158) “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (Q.S. Al-An’am: 32)
Allah itu tunggal, Maha Esa. Dia tidak beranak dan diperanakkan. Karenanya, jika ada orang yang menyatakan bahwa Allah itu beranak dan diperanakkan, atau menyatakan ada Tuhan lain selain Allah, maka ia telah terjatuh dalam perbuatan syirik. Kita harus senantiasa mentauhidkan Allah, dengan beriman dan beribadah kepadanya sepenuh hati. Karena Allahlah satu-satunya Tuhan yang harus kita sembah. “Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa, Allah Adalah Tuhan yang bergantung kepadanya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”(Q.S. Al-Ikhlas:1-4)
(Barangsiapa yang diberikan rezeki oleh Allah berupa istri yang shaleha, niscaya Allah telah membantunya atas separuh agamanya)
(Mutiara Hikmah Saiful Hadi El-Sutha)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar