Melenyapkan Kesusahan dan Kesedihan
Rasulullah s.a.w.
dengan kata-kata yang terang dan tegas sekali mengatakan, bahwa siapa yang
ditimpa kesusahan dan kesedihan agar berdoa sebagai berikut untuk melenyapkan
kesusahan dan kesedihan itu :
Allahhumma Inni ‘Abduka
Wa Ibnu ‘Abdika, Naashiyati Biyadika, Maadhin Fiyya Hukmuka, ‘Adlun Fiyya
Qadhaauka, As-Aluuka Bikullismin Huwa Laka Sammaita Bihii Nafsaka, Au Anzaltahu
Fii Kitaabika Au ‘Allamtahu Ahadan Min
Khalqika Awista’Tsarta Bihi Fii Ilmil-Ghaibi ‘Indaka, An Taj’alalQuraanal
‘Azhiima Rabii’a Qalbu, Wa Nuura Basharii, Wa Jalaa-a Huzni, Wa Dzahaaba Hammi
Wa Ghammii.
Karena susah dan sedih
itu letaknya dihati yaitu pusat kesadaran, pengertian dan keimanan, maka doa
yang diajarkan Rasulullah s.a.w. itu mengisi hati itu dengan kesadaran,
pengertian dan keimanan yang setinggi-tinggi dan seagung-agungnya agar dapat
mengalahkan susah dan sedih yang berada didalamnya.
Perhatikanlah sekarang
tiap-tiap bagian dari doa tersebut :
ALLAHHUMMA, INNI
‘ABDUKA WA IBNU ‘ABDIKA.
Artinya : “Ya Allah,
aku adalah hambaMu dan anak dari hambaMu.”
Kalimat ini berisikan kesadaran dan pengertian bahwa
“saya” (orang yang berdoa atau yang susah dan sedih itu) adalah mempunyai
status (kedudukan) sebagai hamba Tuhan dan anak dari seorang hamba Tuhan.
Sekalipun yang berdoa itu seorang raja atau menteri, seorang ahli atau kaya
raya, tetapi statusnya adalah budak atau hamba. Sebagai seorang hamba atau budak,
janganlah ia mengira ia akan dapat bergembira dan bersenang hati terus-menerus.
Seorang hamba harus dapat merasakan susah dan sedih dalam hidup ini.
NAASHIATII BI YADIKA.
Artinya : “Ubun-ubunku (keadaan
nasibku) berada di TanganMu.”
Seorang budak ia tidak
bebas atau kuasa 100% menetukan keadaannya sendiri, dan yang menentukan itu
ialah Allah.
MAADHIN FIYYA HUKMUKA.
Artinya : “Berlaku pada
diriku hukum yang engkau tetapkan.”
Saya lemah dan kecil;
bumi, bintang-bintang dan planet-planet yang kokoh dan kuat itupun tak dapat
mengeluarkan dirinya dari hukum-hukum yang ditetapkan Tuhan baginya. Apakah aku
akan mencoba keluar dari hukum yang ditetapkan Tuhan itu? Aku akan tunduk pada
semua ketentuan yang Engkau tetapkan bagi diriku.
ADLUN FIYYA QADHAA-UKA.
Artinya : “Adil atas
diriku atas ketentuan yang berlaku atas diriku.”
Aku manusia, gidup
dipermukaan bumi, cara hidup berkebudayaan ada yang susah ada yang senang, ada
yang kaya dan ada pula yang miskin, ada masa naik dan ada pula masa menurun. Begitu
berlaku pada diriku dan demikian pula yang berlaku pada diri banyak manusia
yang lain. Tetapi bagaimana pun juga hebatnya kesusahan dan kesedihan ini, toh
kepadaku lebih banyak dicurahkan Allah kegembiraan dan kesenangan berupakan
berbagai rahmat dan nikmat Tuhan. Adil apa yang berlaku pada diriku ini.
AS-ALUKA BI KULLISMIN
HUA LAKA SAMMAITA BIHI NAFSAKA
Artinya : “Aku bermohon
dengan perantaran setiap Nama yang engkau namai dengan Nama itu akan diriMu.”
Sekalipun sadar akan
keadilan qadha yang berlaku pada diriku, tetapi aku sadar pula bahwa Engkau
Maha Pengasih Penyayang. Suka mengabulkan doa. Maka aku bermohon melalui setiap
lobang atau pintu pengertian yang terkandung dalam setiap Nama-Nama yang Engkau
tetapkan Nama itu bagi diri-Mu, karena sesuai dengan keagungan dan
kebesaran-Mu.
AU ANZALTAHU FII
KITAABIIKA
Artinya : “Atau dengan
Nama yang engkau cantumkan di dalam KitabMu.”
Yaitu juga melalui
setiap Nama-NamaMu yang tercantum di dalam Kitab Suci Al-Quran yang berjumlah
99 Nama atau lebih itu.
AU ‘ALLAMTAHUU AHADAN
MIN KHALQIKA
Artinya : “Atau Nama
yang Engkau ajarkan kepada salah satu dari makhlukMu.”
Aku sendiri tidak
mengetahui Nama itu, karena tidak tercantum dalam KitabMu dan tidak pernah pula
diajarkan oleh Rasulullah.
AWISTA’TSARTA BIHI FII ‘ILMIL
GHAIBI ‘INDAKA
Artinya : “Atau Nama
yang hanya Engkau saja yang mengetahuinya dengan ilmu gaib yang hanya Engkau
yang memilikinya.”
Yaitu Nama-NamaMu yang
terlalu agung atau tinggi, yang tidak Engkau ajarkan kepada kami, tidak kepada
Nabi dan Rasul-Rasul, tidak pula kepada siapapun sekalipun terhadap para Malaikat
sendiri, yang hanya Engkau saja yang mengetahuinya, karena tak sampai kekuatan akal
dan kemampuan kami memahamkannya.
AN TAJ’ALAL-QURAANAL-AZHIIMA
RABII’A QALBII
Artinya : “Agar kiranya
Engkau jadikan Al-Quran Al-Azhim menjadi kembang didalam kalbuku.”
Karena bila Al-Quran
itu sudah menjadi kembang yang merekah dan mewangi semerbak di dalam kalbuku,
akan sirnalah kesedihan dan kesusahan itu.
WA NUURA BASHARII, WA
JALA A-A HUZNII, WA DZAHABA HAMMI WA GHAMMII.
Artinya : “Sehingga
dapat menjadi sinar bagi penglihatanku, menjadi pengusir kesedihanku, dan
penghapus duka dan pilu hatiku.”
Begitulah maksud dan
arti yang terkandung di dalam doa itu, dan dengan begitulah doa yang diajarkan
Rasulullah s.a.w. itu memasukkan setinggi-tinggi kesadaran dan pengertian
kedalam hati manusia, sehingga segala kesusahan dan kesedihan yang mulanya
bersarang dalam hati, dikalahkan oleh kesadaran dan pengertian tersebut,
sehingga lenyaplah kesedihan, kesusahan dan kepiluan itu, lalu bertempat
didalamnya kegembiraan dan kebahagiaan.
Jadi disamping mengucapkan
doa yang pendek sebagai tersebut diatas ini, kita harus mengulang-ulang
menyebut tiap-tiap Nama dari Nama-Nama Allah yang dinamakan Asmaul-Husna dan
Asmaul-A’zham al-Husna dengan segala kesadaran, pengertian dan keyakinan sebagai
diterangkan diatas. Dan disamping itu kita harus terus menerus membaca kitab
Suci Al-Quran, juga dengan kesadaran dan
pengertian, sehingga Al-Quran itu menjadi kembang didalam hati kita yang
berdoa.
Mari kita coba dengan
bersungguh-sungguh, dengan tak bosan-bosan dan tak berputus asa, mudah-mudahan
Allah menolong dan memberi taufik dan hidayahNya. Sehingga doa kita menjadi
makbul dan dapat melenyapkan kesedihan dan kesusahan hati, bahkan berganti menjadi
gembira dan bahagia. Amiinnn.
(H. Bey Arifin Samudera Al-Fatihah)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar