Senin, 12 Agustus 2013

Nama-Nama Neraka


Nama-nama Neraka

1       Huthamah, nama ini tercantum dalam Al-Qur’an Surat Al-Humazah (104) ayat 4-5.

2     Hawiyah, nama neraka ini tercantum dalam Al-Qur’an Surat Al-Qori’ah (101) ayat 9-10.

3      Jahannam, nama neraka ini tercantum dalam Al-Qur’an Surat Al-Hijr (15) ayat 43.

4     Jahim, nama neraka ini tercantum dalam Al-Qur’an Surat As-Syu’araa (26) ayat 91.

5      Saqar, nama neraka ini tercantum dalam Al-Qur’an Surat Al-Muddatstsir (26) ayat 26-27,42.

6      Sa’ir, nama neraka ini tercantum dalam Al-Qur’an Surat An-Nisa’ (4) ayat 10; Surat Al-Mulk (67) ayat 5,10,11 dan lain-lain.

7     Walil, nama neraka ini tercantum dalam Al-Qur’an Surat Al-Muthaffifin, ayat 1-3.



Wallahu'alam bissawab

Alan Angga Nuari

Pintu-Pintu Neraka

Pintu-Pintu Neraka

Seperti disebutkan dalam Surah Al Hijr, ayat 44 :
“Jahannam itu mempunyai tujuh pintu, tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka.”
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah Saw pernah bertanya kepada Malaikat Jibril as. : “Siapakah orang-orang yang menempati pintu-pintu neraka itu ?”
Malaikat Jibril as menjawab :
Pintu yang paling bawah, didalamnya ditempati oleh orang-orang munafik dan orang-orang kafir. Pintu itu bernama ‘Hawiyah’.

“Pintu kedua namanya ‘Jahim’ yang didalamnya ditempati orang-orang musyrik.

“Pintu ketiga namanya ‘Saqar’ didalamnya ditempati orang-orang penyembah berhala.

“Pintu keempat namanya ‘Ladhaa’ didalamnya ditempati orang-orang majusi dan ditempati iblis dan orang-orang jadi pengikutnya.

“Pintu kelima namanya ‘Huthamah’ didalamnya ditempati orang-orang yahudi.

“Pintu keenam namanya ‘Sa’iir’ didalamnya ditempati orang-orang nasrani.

“Pintu ketujuh ditempati orang-orang yang melakukan dosa besar dari umatmu yang sampai meninggal dunia belum bertaubat.”

Itulah jawaban malaikat Jibril as. Kita sedang hidup dijaman umat Muhammad, maka diantara kita melakukan dosa besar, segeralah bertobat supaya tidak masuk neraka melalui pintu ketujuh.

Wallahu'alam bissawab
Alan Angga Nuari


Minggu, 11 Agustus 2013

Tunggu Aku Di Surga Sayangku***


.. TUNGGU AKU DI PINTU SURGA, SAYANG-KU ...

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Seandainya saja bunuh diri itu halal, saya pasti lakukan dulu sebelum jenazah putra saya satu-satunya dan istri dikuburkan.

Untuk apa lagi saya hidup ketika seluruh keluarga saya yang selama ini menjadi penghibur hati dan harapan saya telah pergi meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya.

Ketika saya bertanya pada Pak Haji yang membesarkan hati waktu itu, ia hanya diam saja. Saat histeris dan berteriak-teriak marah pada diri sendiri yang tak bisa mencegah musibah itu, tetap saja tak seorangpun berkata apa tujuan hidup saya berikutnya selain kata-kata membujuk untuk sabar. Sabar? Untuk apa?

Saya seorang suami, menikahi wanita Aceh yang baik hati. Ia tak terlalu cantik, tapi orangnya sangat baik dan benar-benar polos.

Saat menikahinya, gadis Aceh itu masih sangat muda. Umurnya saja baru 17 tahun dan baru tamat SMU. Saya memboyongnya ke Jakarta setelah berhenti bekerja di Aceh.

Sayangnya saat bencana tsunami melanda Meulaboh, seluruh keluarga istri saya menghilang tanpa jejak. Waktu saya dan istri berhasil mencapai kota itu beberapa minggu setelah bencana, tak ada yang tersisa selain lantai keramik rumah yang juga terkelupas sebagian. Istri saya sempat shock hebat. Tapi akhirnya kami bisa melewati masa-masa itu dengan saling menguatkan.

Lama sekali kami baru dikaruniai seorang anak, karena istri saya memiliki kista endometrium. Kami sempat berobat di dokter, tapi harus dioperasi. Istri saya tidak berani menjalani operasi, lalu kami pun pindah ke pengobatan alternatif.

Setelah menjalani pengobatan lebih dari setahun, barulah istri hamil. Tepatnya lima tahun setelah menikah, istri saya melahirkan seorang anak laki-laki. Saya bangga bukan main karena anak itu terlahir dengan ukuran tubuh hampir 4 kg. Hebatnya lagi, istri saya melahirkan normal.

Pekerjaan saya yang baru juga sekarang benar-benar mengangkat ekonomi keluarga kami. Saya bisa membeli rumah dan mobil di tahun yang sama setelah Raihan lahir. Kebanggaan saya makin lengkap ketika Raihan terpilih sebagai pemenang lomba bayi sehat.

Dua tahun berlalu, Raihan tumbuh jadi anak yang aktif. Dia sudah pandai bicara, hanya bisa tidur kalau saya yang menidurkannya. Makanya saya pun membeli rumah dekat kantor, agar tiap siang bisa pulang sebentar untuk mengurus Raihan.

Kata orang-orang, Raihan mirip sekali dengan Bapaknya. Setali tiga uang dalam segala hal. Raihan memang manja sekali sama saya. Kalau hanya bersama Ibunya, dia biasa-biasa saja tapi begitu saya datang, maka penyakit manjanya langsung kambuh. Maunya digendong saja.

Saat itu Raihan suka sekali kalau digelitiki, tertawanya bisa kedengaran sampai ke seluruh kompleks. Saya sering membawanya digendong di pundak sambil berkeliling kompleks dan menyapa para tetangga. Semua orang bilang, duh cakepnya Raihan ini. Raihan memang mewarisi mata Ibunya dan rambut ikal saya yang tebal. Kulitnya putih dan badannya tak terlalu gemuk.

Saya pikir hidup saya sudah sangat sempurna. Istri yang manis, anak yang ganteng dan tambah lengkap lagi ketika istri saya memberitahu kalau ia sudah terlambat haid dua bulan. Waktu itu saya berniat mengajaknya ke dokter untuk periksa. Saya berharap, kali ini dia melahirkan anak perempuan agar melengkapi kebahagiaan saya. Tapi karena di kantor lagi sibuk, saya memintanya pergi sendiri dengan taksi.

Istri saya bilang saat itu, dia maunya saya yang mengantar. Karena itu saya pun mengalah dan berjanji nanti akhir minggu itu kami ke dokter.

Siapa sangka itulah awal malapetaka. Saat tidak ada orang di rumah, istri dan anak saya mengalami musibah. Saya tak bisa dihubungi karena saat itu berada dalam pesawat. Saya melakukan perjalanan dinas ke Nusa Tenggara Barat.

Ketika sampai, saya hanya dikabari kalau istri dalam keadaan koma di rumah sakit. Detik itu juga saya memburu tiket untuk pulang ke Jakarta.

Di bandara, saya menghubungi handphone istri. Tapi yang menjawab Bapak saya yang meminta saya pulang ke rumah. Padahal saya mau langsung ke rumah sakit melihat istri. Bapak hanya meminta saya pulang dulu anak saya di rumah yang katanya memerlukan saya.

Sampai di rumah, lemas lutut saya ketika melihat bendera kuning kecil sudah berkibar di pagar rumah saya. Ketika itu saya mengira hanyalah istri yang pergi meninggalkan saya untuk selamanya. Tapi ternyata ketika masuk, dua jenazah berjajar menanti kepulangan saya. Saya bingung, jenazah siapa ini?

Bapak mencegah saya melihat kedua jenazah, tapi saya terus memaksa. Dan ketika melihat jenazah anak saya juga terbaring di samping jenazah istri saya, rasanya hati saya hancur bukan main menyaksikan dua orang yang paling saya sayangi sudah tiada.

Bapak pun menceritakan apa yang terjadi sesungguhnya, kalau Istri saya mengalami pendarahan hebat, lalu ia meminta tolong tetangga kami untuk dibawa ke rumah sakit. Karena terburu-buru, mereka melewati lintasan kereta api tanpa mendengar sinyal kereta mau lewat. Dan ketiganya tewas di tempat, tertabrak kereta.

Saya marah sekali. Menyesali diri sendiri karena tak bisa mencegah musibah terberat dalam hidup saya. Minggu-minggu pertama itu, saya seperti orang gila dan terus berteriak-teriak marah.

Bapak dan Ibu berkali-kali menyuruh saya untuk sholat. Tapi saya malah marah pada mereka dan menyalahkan mereka karena tak mau menemani istri saya saat saya tinggal keluar kota. Ibu dan Bapak sampai menangis mendengar kata-kata saya.

Setelah empat puluh hari lewat, Bapak tetap tak mengizinkan saya hidup sendirian di rumah. Dia masih tinggal bersama ibu. Bedanya ibu di kamarnya yang biasa kalau menginap di rumah saya, sementara saya dan Bapak selalu tidur di kamar tempat Raihan biasa bermain.

Saya memang tidur melingkar terus di kasur tipis tempat Raihan biasa bergulingan sendiri. Beberapa kali timbul keinginan untuk mati menyusul mereka.

Tapi Bapak terus mendampingi saya. Dia sholat di samping saya, berzikir kalau sedang duduk menemani bahkan sesekali dia mencoba berbicara dengan saya. Tapi pikiran saya benar-benar kosong melompong, hati dan jiwa saya seperti ikut mati bersama keluarga saya.

Suatu subuh, saya terbangun dan sayup-sayup mendengar Bapak berzikir di dekat saya yang lagi tidur. Saya mendengar Bapak juga berdoa lama sekali, entah apa isi doanya tapi Bapak sampai terisak-isak menangis.

Saya juga ikut meneteskan airmata dan baru menyadari kalau Raihan juga adalah cucu satu-satunya Bapak. Saya memang punya tiga orang adik, tapi baru saya yang sudah menikah dan punya anak.

Saya duduk dan menyentuh bahu Bapak. Bapak menoleh, tapi berusaha keras tersenyum. “Sholat, nak. Doakan anak dan istrimu, ya!”

Saat itulah, saya seperti disadarkan dari kesedihan. Saya pun bangkit dan untuk pertama kalinya setelah musibah saya sholat kembali. Saya menangis ketika berdoa, menyesal dan memohon ampun.

Bapak duduk di samping saya menunggu saya selesai sholat. Ketika selesai, Bapak dan saya duduk berdampingan seperti saya masih kecil dulu. Pelan-pelan Bapak menasehati saya.

“Kehilangan anak dan istrimu memang musibah besar dalam hidupmu, Nak. Tapi terus menerus menangisi mereka, itu perbuatan yang sia-sia. Di dunia ini kita hanya bersentuhan dengan dua hal, perbuatan baik atau perbuatan buruk. Itu saja.

Karena Allah lebih mencintai anak dan istrimu, agar mereka berdua tak berbuat buruk dan berdosa lebih banyak itu sebabnya Allah mengambil dan menjaga mereka berdua. Ini juga sebagai ujian untukmu dan untuk kita sekeluarga. Apakah kita bisa bersama-sama keluar dari ujian kesabaran ini dan menjadi semakin beriman, atau malah jatuh menjadi hambaNya yang berputus asa?”

“Kalau mau jujur, Bang. Andaikata Bapak ini bisa menangis darah, maka darahlah yang keluar dari mata ini, Nak. Bapak juga sakit di dalam hati sini karena Bapak juga sayang pada menantu Bapak yang soleha dan anakmu yang gagah itu.

Tapi seluruh kebahagiaan dunia itu fana. Kebahagiaan sesungguhnya nanti di surga, anakku. Almarhumah istri dan anakmu sudah menantimu di pintu surga. Maukah kau bertahan tetap hidup di dunia dan menjalani hidup yang lebih baik agar nanti bisa bertemu mereka lagi?

Dengan mendekatkan diri pada Illahi, insya Allah kau juga bisa melewati ujian ini dengan mudah. Jangan sia-siakan penantian mereka di sana dengan membuat dirimu terjerumus dosa, Bang.”

Saya menangis, kali ini bukan karena kehilangan tapi menyesali perbuatan saya selama ditinggalkan orang-orang tercinta. Saya bukannya mendekatkan diri dengan mereka, tapi malah semakin menjauhi mereka.

Mereka menanti saya di pintu surga, saya malah berjalan menuju neraka. Saya pun berjanji pada Bapak untuk berubah. Dan sekarang sudah berbulan-bulan berlalu dari hari yang malang itu, saya masih belum bisa melupakan kenangan indah keluarga saya itu, hanya sekarang saya terus berupaya tetap berada di jalan yang lurus, jalan di mana kelak berujung dengan surga tempat kedua orang yang saya cintai menunggu.

Tunggu saya di pintu surga, sayangku dan kebanggaanku! Nanti kita berjalan bersama menuju kebahagiaan sejati itu.


(cerpen Terbaik {dari berbagai Sumber)

Ketika Aku Terbaring Nanti

KETIKA AKU TERBARING NANTI

Hari sabtu ini, seperti juga sabtu sabtu lain beberapa bulan ini. Kau selalu lembur. Hari liburmu fraktis tinggal sehari, hari minggu saja. Seperti anak anak sekolah saja.
Nanti pulang jam berapa mas ? tanyaku sebelum melepas keberangkatanmu.
Sekitar jam 3, banyak kontrak yang harus kuperiksa dan kuparaf. Kontraktor sudah pada teriak. Maklum tutup tahun. Paling lambat tanggal 12 ini sudah kelar.’’ Katamu sambil memakai jaket hitam kesayanganmu.
Kubantu menutup resleting jaketmu, dan kau mencium keningku, seperti biasa lembut dan mesra.
Jangan lupa maemnya, kataku sebelum akhirnya kupelas kepergian mu diujung gang dan kau berbelok kekanan, menghilang dari pandangan mataku.
Mengantarmu berangkat kerja, meski hanya dari halaman rumah sederhana kita, dengan tatapan mata penuh cinta dan doa selalu membuat hatiku berdebar debar.
Debaran yang masih sama, bahkan jauh lebih menggelora dibanding debar pertama hamper 18 tahun yang lalu saat kau menyentuhku pertama kalinya.
Cintakah ? Nafsu ? Ah,,, buat apa memusingkan kepala hanya untuk menjatuhkan pilihan antara dua kata itu, Toh, mau bilang cinta buktinya aku selalu bernafsu saat berada didekatmu, bahkan saat kau tinggalkan tugas keluar kota.
Nafsu ? Ah,,, mengapa juga harus malu ? bukankah perkawinan telah membuat Tuhan menghalalkan, bahkan menjadikan nafsu paling dasar menjadi halal bagi kita ? bahkan bernilai ibadah.
Kau tentu masih ingat, bukan ? bagaimana minggu lalu ketika seharian aku dirumah ibumu ? sepulang dari kantor kau menjemputku. Seperti biasa pula kucium tanganmu. Kubantu kau melepas jaket, dan kutawarkan padamu segelas teh dingin, kau menatapku hangat.
“Waduh ! kayak manten anyar wae (seperti pengantin baru saja) pirang ndino se gak ketemu, (berapahari sih gak bertemu) ? ‘’’Goda Bu, lek, adik ipar ibumu yang tiba tiba berada dibelakang kita.
Aku tersipu, setengah menyesal mengapa tadi tak sempat mengingat kalau didapur banyak orang, kebetulan malam hari nanti ada selamatan tiga harian meninggalnya saudara kita.
Melihatku tersipu, sambil tersenyum kau menjawab.
“”yoo opo se Bu,Lek ! ( gimana se Bu, Lek ini )  Lha dulu jauh jauh tugas kubela belain nguruskan untuk mutasi hingga berbulan bulan biar kumpul, masak sekarang gak kusayang sayang.?””
Ah, perempuan mana tak tersanjung dengan kalimat itu ? seandainya saja kau bisa melihat, kebun bunga didadaku penuh aroma mawar dan melati yang bermekaran.
Begitu pun 4 hari berikutnya, ketika acara 7 harian saudara ipar kita itu. Kau seperti biasa kekantor hingga usai maghrib baru menyusulku kerumah ibu.
Seperti biasa, berpisah sehari (tanpa semalam) denganmu terlalu banyak hal yang harus segera dan ingin kuceritakan kepadamu. Tentang anak anak kita, tentang teman teman kantorku, juga perasaanku hari itu,sambil berdiri berhadap hadapan, kau lingkarkan satu tangan kananmu kepinggangku. Kita terlalu asik bercerita, kita lupa banyak saudara disitu. Hingga aku harus sekali lagi tersipu malu ketika mba ida menggoda kita.
“”Aduuuuuuuh yang pengantin baru ! Lupa sama yang lain.””
Ah,,,, cinta kita ternyata semakin bermekaran.
*****
Hingga belasan tahun menikah, kita selalu mesra, selalu bersetia, saling sayang, dan selalu kompak. Meski, akhir akhir ini kau selalu memprotes dengan kalimat candaan tentang kondisi kesehatanku yang terus memburuk.
“”Hm,Dik, rasanya kita mulai tak kompak ?””
“”Maksud Mas ?”” tanyaku tak mengerti.
“”ya, mana bisa kompak, kalau aku darah tinggi dan kau darah rendah ?”” katamu sambil mengacak acak rambutku.
Lalu kita tertawa bersama seperti biasa.
Alangkah indahnya cinta kita. Alangkah surga rumah tangga kita. Ada engkau yang selalu cinta dan setia untukku, juga aku, engkau yang selalu bersiap membenahi segala urusan rumah kita, mulai bayar air, telpon, biaya sekolah anak anak, membenahi lampu bila mati, kran air, memanggil tukang bila perlu, mengantar dan menjemput anak anak kesekolah, dan semua semuanya kau lakukan penuh cinta.
Tak pernah mengeluh, hanya selalu kau minta memijat punggung, pinggang, bahu, kaki bahkan seluruh tubuhmu bila kau lelah. Akupun selalu berusaha tak mengeluh. Aku bahagia karena kau membutuhkan aku, sama seperti aku membutuhkanmu.
Dan, ada anak anak yang selalu membuat hidup kita berwarna dan bermakna.
Kadang bila kita berjauhan, bahkan saat aku berada dalam pelukanmu, kubayangkan apakah aku sanggup hidup tanpamu ? tak ada hal yang kuselesaikan, kuraih, kunikmati, dalam hidup ini tanpa bantuanmu, kehadiranmu.
Membayangkan hal kecil saja, semisal saat listrik konslet atau kran air mati, aku sudah kebingungan.aku tak pernah belajar. Tak pernah melakukannya, kau pun melarangku melakukannya.
Katamu, aku lebih baik mendampingi anak anak belajar atau menulis dan mengerjakan tugas tugasku yang lain, Ya, kau selalu menyiapkan tanganmu, bahumu, dadamu, bahkan nyawamu untukku.
Kau pun selalu memaapkan salah dan khilafku. Sungguh, dalam hidupku tak kutemui orang setelah ibu-bapakku, yang mencintaiku, dan selalu memaapkanku, selain engkau, lalu salahkah bila aku membayangkan takkan sanggup hidup tanpamu ? betapa berartinya kau padaku.
Kini, ketika kucoba membalik kenyataan itu, ketika kubayangkan tiba-tiba maut menjemputku lebih cepat, dan aku harus kembali pada-Nya meninggalkanmu dan anak-anak, rasanya seperti meluluhlantakkan tulang-tulangku sendiri. Gemetar seluruh tubuhku menggigil. Air mata yang hampir menetes itu kutelan kembali, kubiarkan menjadi lautan tangis didadaku. Biar hanya dia yang mendengar.
Tak sanggup kubayangkan dirimu sendirian, membagi waktu antara bekerja dan membimbing anak-anak. Tak sanggup kubayangkan sepi dan dinginmu malam-malam saat seluruh tubuhmu lelah. Tak sanggup kubayangkan.
“”Mas,”” sore kemarin kuberanikan diri memulai percakapan.
“”Hmm,”” katamu sambil menatap televisi yang menayangkan berita banjir lahar dingin di magelang.
“”Mas, peluk aku,”” Pintaku lirih.
Sore itu hanya ada kita dirumah, anak anak belum ada yang pulang dari mengaji dimasjid.
“”Kenapa ? sakit ?”” katamu langsung memelukku hangat.
“”Mas,,”” suaraku gemetar. Air mata yang kutahan seharian ini merebak juga.
“”Kau kenapa ?”” kau menatapku penuh kekhawatiran.
“”Bila, suatu saat hari kelak aku harus pergi lebih dulu, carilah penggantiku.””
“”Ssst ! jangan ngomong itu.””
Kau mencium keningku lembut. Beberapa waktu kita terdiam. Hanya kurasakan nafasmu tak lagi beraturan.
“”Gak. Mas, Beneran. Aku ikhlas. Mas harus mencari penggantiku, kasihan anak-anak. Kasihan mas gak ada yang ngurusi,”” kataku lagi.
Kau memegang erat tanganku.
“”Dik,, kita telah hidup bersama berpuluh-puluh tahun. Aku bahagia sangat bahagia. Tak semudah itu menggantikanmu dengan yang lainnya. Lagi pula aku tak yakin akan mendapatkan istri yang lebih baik darimu. Bisa-bisa aku mendapatkan yang lebih bawel darimu,’’’ katamu mengakhiri jawaban itu dengan bercanda.
Aku tahu. Sangat  tahu. Aku bawel. Namun, kau pun menyukainya. Hingga bila tiba-tiba dalam sehari tak ada cerita baru yang kubagikan padamu, kau akan dengan cemas bertanya apakah aku sakit.
‘’’’Mas. Aku serius ! selain itu, si cantik kelak harus jadi dokter. Yang lain terserah.””
Kau menatapku dan segera sadar bahwa aku bicara serius.
“’’Mas. fotolah aku sepuas Mas, selama masih segar tubuhku, masih canntik wajahku, dan masih manis senyumku. Biar kenangan indah ini akan tetap terfatri dalam hatimu.’’’
Kau diam. Tak menjawab. Adzan Ashar terdengar, kau bersegera ambil wudhu lalu kemasjid. Tanpa salam seperti biasanya.
Mungkinkah hatimu sehancur hatiku kini ? kau tentu masih ingat, ketika dalam tangis tersedu kuceritakan betapa bayangan kematian itu terasa semakin dekat akhir-akhir ini bagiku. Aku tahu, meski kau katakana bahwa hidup dan mati itu urusan Tuhan, tapi kaupun tak siap, bila ketakutanku menjadi kenyataan.
Seminggu yang lalu, dokter menyuruhku untuk melakukan berbagai tes. Beberapa jenis tes darah untuk melihat kelainan apa yang menyebabkan selalu terjadi pendarahan pada bagian kewanitaanku, setiap kali habis kutunaikan tugasku sebagai seorang istri padamu.
Darah segar yang membuatku begitu ketakutan, tiap  kali kau menyentuhku. Syukurlah kau mengerti dan bersabar menerima keadaan itu.
Sambil menunggu hasil tes dari laboratorium, kucoba bertanya kepada beberapa temanku yang kebetulan menjadi dokter atau bidan. Dari mereka aku tahu bahwa pendarahan yang terjadi itu, bias jadi merupakan pertanda adanya kanker dirahimku.
Dua malam aku hamper tak sanggup memejamkan mata. Ketika kau menanyakan padaku apakah ada yang sedang aku pikirkan, dengan air mata berderai kujawab pelan.
‘’’’Mas. Pendarahan itu mungkin saja pertanda adanya sel kanker dirahimku.’’’
Kau terkejut sesaat. Lalu dengan lembut kau memelukku.
“’’Itu kan baru secara Teoritis. Berdoalah semoga tidak terjadi apa-apa.’’’
“’’Mas. Aku takut.’’’
Dan seperti biasanya, tanpa banyak kata kau memelukku, mengelus rambutku.
Tetapi ketika besok pagi, ketika hasil tes laboratorium itu kuterima, masihkah aku sanggup menatap dunia bila ternyata dirahimku benar-benar ditemukan kanker.
Ya Allah. Aku benar –benar ketakutan.
Sepulang dari masjid, kau cium pipiku. Lalu kau rengkuh tubuhku dipangkuaanmu.
‘’’’Diantara semua hal yang kau katakana tadi, hanya satu yang kusetujui.’’’
“””Apa Mas ?””
“”Memotretmu dalam berbagai gaya. Nah sekarang mandilah. Lalu berdandan yang cantik. Biarkan kupenuhi permintaanmu.’’’’
Sekali ini aku tersipu. Aku tahu pikiranmu. Kau suka memotretku, memaksaku nakal.’’ Kau memang anugerah terindah bagiku. Bila benar esok aku harus menerima suratan takdir mengerikan itu. Aku tahu, aku memilikimu. Memiliki lelaki terbaik yang akan selalu mendampingiku dalam keadaan apapun.

-oleh Faradina Izdihary-

Jumat, 09 Agustus 2013

Kata Bijak



LIHATLAH TELAPAK TANGAN MU ...

Ada beberapa garis utama yg menentukan
nasib...
Ada garis kehidupan
...
Ada garis rezeki

Ada pula garis jodoh

Sekarang, menggenggamlah... Dimana semua
garis tadi ?
semua garis tadi ada di dalam genggamanmu...

Apa artinya ??
Apapun takdir dan keadaanmu kelak, semua itu
ada dalam genggamanmu sendiri... itulah
rahasia sukses..

Berjuang dan berusaha dengan keras untuk
menentukan nasib sendiri..

Tapi,,
coba lihat lagi genggamanmu itu...
Ternyata masih ada garis yang tidak ikut
tergenggam ?
Sisa garis itulah yanǥ ada di luar kendalimu...
di sanalah letak kekuatan TUHAN yang tidak akan
mampu kita lakukan...
itulah bagianNya TUHAN

maka, genggam dan lakukan bagianmu dengan
kerja keras dan dengan kesungguhan hati...
tapi,
jangan lupa... bawalah semua itu pada TUHAN
karena tidak semua hal mampu kita lakukan.

Orang yg hebat tidak dihasilkan melalui...
kemudahan
kesenangan
ketenangan
Mereka díbentuk melalui
keSUKARan
TanTanGan dan airmata

Ketika engkau mengalami sesuatu yg sangat
berat dan merasa dítinggalkan sendiri dalam hidup
ini ...
"Angkatlah Tangan dan Kepalamu ke atas.....
Tataplah masa depanmu.."
Ketahuilah...

> Engkau sedang dipersiapkan TUHAN untuk
menjadi... Orang yg Luar Biasa..

(Kata Bijak)

Minggu, 04 Agustus 2013

Rabu, 11 Januari 2012

Aku merasa hubungan kita sekarang beda, mungkin kakak juga merasakan hal yang sama. Jujur aja, aku tidak bisa kakak, terus-terusan jalani hubungan kita yang tidak jelas ini. Jadi mungkin sebaiknya. kita sendiri-sendiri saja dulu. Mungkin lebih baik seperti ini ya kakak. Tidak perlu dijelaskan. Mungkin kakak tau alasannya mengapa. Maaf sudah ganggu waktunya.
(Rabu, 11 Januari 2012 14:49 Wita)

Tuhanku pertemukanlah aku dan dia dengan pasangan yang baik-baik, baik menurutmu dan baik bagi agama dan keturunan kami, aku sayang dia tapi engkaupun sangat menyayangi dia maka aku tau engkau akan menjaganya............... Aku tau rasa ini salah namun aku tau engkau akan tetap memberikan kekuatan padaku, tetap memberikan kekuatan padanya, menuntunku dan menuntunnya, dalam jalanmu, dalam ridhamu.Amiinnnn :)


Jumat, 02 Agustus 2013

Kampung Kelian Dalam Kecamatan Tering

Selamat Datang, berikut saya paparkan, meskipun tidak secara keseleruhan, tetapi paling tidak semoga tulisan ini bisa membantu teman-teman.


Poto 1
Bersama Petinggi Kampung Kelian Dalam, Bapak Hasanudin


Poto 2 
Bersama Petugas Puskesmas Pembantu Kelian Dalam, Ibu Safa Marwa

Poto 3
Bersama Ibu-Ibu Kampung Kelian Dalam 

Poto 4
Penyerahan Plakat Kepada Puskesmas Pembantu Kelian Dalam


Poto 5
Wisata Jantur Kelian Dalam Mahasiswa KKN UNMUL XXXIX 2013

Poto 6
Wisata Jantur Kelian Dalam Mahasiswa KKN UNMUL XXXIX 2013

Poto 7
Wisata Jantur Kelian Dalam Bersama Mahasiswa KKN, Upik & Andika

Poto 8
Wisata Jantur Bersama Pemuda Kampung Kelian Dalam

Poto 9
Poto Bersama Adek-adek SMPN & SDN Kelian Dalam

Poto 10
Kenang-kenangan Tulisan Tangan Di Batu, Jantur Kelian Dalam

Poto 11
Jembatan Gantung Kelian Dalam

Poto 12
Bersama Adek-adek SMPN Kelian Dalam
Tino, Fika, Firda, Alan

Poto 13
Bersama Adek-adek SDN Kampung Kelian Dalam

Poto 14
Bersama Adek-adek SMPN & SDN Kelian Dalam

Poto15
Buka Puasa Bersama Adek-adek Kelian Dalam

Poto 16
Buka Bersama Adek-adek Kelian Dalam
Lilis, Firda, Alan, & Irma

Poto 17
Buka Bersama Adek-adek Kelian Dalam

Poto 18
Mendulang Emas

Poto 19
Mendulang Emas
Poto 20
Alat Tradisional yang diGunakan Dalam Menambang Emas

Poto 21
Menyelam Merupakan Proses Menambang Emas 

Poto 22
Prosese Pembersihan Emas

Poto 23
Akses Jalur Darat (Jln. Umum) Menuju Kampung Kelian Dalam

Poto 24
Akses Jalur Darat (Jln. Tambang) Menuju Kampung Kelian Dalam

Poto 25
{Kiri} : Persimpangan PT. UCI  & {Kanan} (Jln. Umum) Menuju Kampung Kelian Dalam


Poto 26
Sungai Kampung Kelian Dalam

Poto 27
Ketinting Merupakan Alat Transfortasi Warga Untuk Menuju Hulu dan Hilir 
Menambang Emas di Sungai Kelian Dalam

Poto 27
Sungai Kelian Dalam Musim Surut (Kemarau)



Sejarah Kampung Kelian Dalam
Nama kelian dalam diambil dari nama sungai yang mengalir di sepanjang Kampung dan Sungai  tersebut bernama Kelian, karena Kampung ini di bantaran atau dipinggiran sungai tersebut dan letak tersebut berada jauh dari muara kedalam sungai, maka kampung tersebut dinamakan Kampung Kelian Dalam, sementara kampung tetangga yang berada dimuara Sungai Kelian dinamakan Kampung Kelian Luar.
Asal Mula Penduduk Kampung Kelian Dalam
Penduduk Kampung Kelian dalam berasal dari kampung sekitar daerah ini terutama dari Kampung Long Iram Kota dan Kampung Tering yang pada mulanya ingin mencari kehidupan yang lebih layak dipesisir sungai kelian, yaitu dengan cara mendulang emas yang dilakukan secara manual. Karena usaha mendulang emas tersebut berhasil dan menjanjikan, maka berita tersebut dengan cepat menyebar kekampung kekampung tetangga, bahkan sampai keluar daerah (Luar Pulau Kalimantan).
 karena orang yang datang dari segala penjuru Nusantara, maka keragaman suku, ras, latar belakang  budaya serta adat istiadat menjadi majemuk. Walaupun demikian kerukunan tetap terjaga dan perbedaan dari masing masing kelompok tersebut terjalin begitu erat dan harmonis.
Terbentuknya Kampung Kelian Dalam
Pemerintah Kampung Kelian Dalam terbentuk bersamaan dengan menetapnya para pendatang yang mulai membangun pemukiman disekitar tempat kerja mereka dan seiring pula dengan mulai ramainya tempat tersebut.
Kampung Kelian Dalam dari Berbagai Perspektif
Kelian Dalam dari perspektif Kepercayaan
Penduduk yang bermukim pertama kali di kampung Kelian Dalam sudah menganut agama islam, tetapi masih ada sebagian penduduk yang memegang teguh kepercayaan nenek moyang mereka, seperti upacara beliant, penyajian sesajen. Hingga saat ini penduduk kampung Kelian Dalam hampir 95% memeluk Agama Islam selebihnya pemeluk agama Kristen/Katholik.
Kondisi Kampung Kelian Dalam
1. Kondisi Umum Kampung Kelian Dalam
Keadaan Geografis Kampung Kelian Dalam
·         Jarak Ke Ibu Kota Kecamatan                      : 30 KM
·         Lama Tempuh Ibu Kota Kecamatan              : 45 Menit
·         Kendaraan Umum Ke Ibu Kota Kecamatan  : Motor/Mobil
·         Jarak Ke Ibu Kota Kabupaten                      : 55 KM
·         Lama Tempuh Ke Ibu Kota Kabupaten         : 90 Menit
·         Kendaraan Umum Ke Ibu Kota Kabupaten   : Motor/Mobil

Keadaan Sarana & Prasarana
Listrik : Menggunakan Lampu Jengset Kampung, yang dinyalakan dari Pukul 17:30 - 00.00 WIB
Jaringan : Indosat (Utama) & Telkomsel (Ada di Tempat-Tempat Tertentu)

Demografi
Berdasarkan data Administrasi Pemerintahan Kampung Kelian Dalam tahun 2012, jumlah penduduk kampong kelian dalam adalah terdiri dari 389 KK, dengan jumlah total 1317 Jiwa, dengan rincian 666 Laki-laki dan 651 Perempuan.
Dalam Pemerintahan Kampung kelian Dalam dan menurut Informasi yang diperoleh dari masyarakat yang cukup mengetahui sejarah kampong kelian dalam, pemerintahan kampong telah berganti beberapa kali, yaitu :
1.      M. Aini Suri
2.      Asmael N
3.      Achmad Yani
4.      Hasanuddin (Sekarang)


(sumber : RPJM Kampung Kelian Dalam)
dari : Alan Angga Nuari