KETIKA
AKU TERBARING NANTI
Hari
sabtu ini, seperti juga sabtu sabtu lain beberapa bulan ini. Kau selalu lembur.
Hari liburmu fraktis tinggal sehari, hari minggu saja. Seperti anak anak
sekolah saja.
Nanti
pulang jam berapa mas ? tanyaku sebelum melepas keberangkatanmu.
Sekitar
jam 3, banyak kontrak yang harus kuperiksa dan kuparaf. Kontraktor sudah pada
teriak. Maklum tutup tahun. Paling lambat tanggal 12 ini sudah kelar.’’ Katamu
sambil memakai jaket hitam kesayanganmu.
Kubantu
menutup resleting jaketmu, dan kau mencium keningku, seperti biasa lembut dan
mesra.
Jangan
lupa maemnya, kataku sebelum akhirnya kupelas kepergian mu diujung gang dan kau
berbelok kekanan, menghilang dari pandangan mataku.
Mengantarmu
berangkat kerja, meski hanya dari halaman rumah sederhana kita, dengan tatapan
mata penuh cinta dan doa selalu membuat hatiku berdebar debar.
Debaran
yang masih sama, bahkan jauh lebih menggelora dibanding debar pertama hamper 18
tahun yang lalu saat kau menyentuhku pertama kalinya.
Cintakah
? Nafsu ? Ah,,, buat apa memusingkan kepala hanya untuk menjatuhkan pilihan
antara dua kata itu, Toh, mau bilang cinta buktinya aku selalu bernafsu saat
berada didekatmu, bahkan saat kau tinggalkan tugas keluar kota.
Nafsu
? Ah,,, mengapa juga harus malu ? bukankah perkawinan telah membuat Tuhan
menghalalkan, bahkan menjadikan nafsu paling dasar menjadi halal bagi kita ?
bahkan bernilai ibadah.
Kau
tentu masih ingat, bukan ? bagaimana minggu lalu ketika seharian aku dirumah
ibumu ? sepulang dari kantor kau menjemputku. Seperti biasa pula kucium
tanganmu. Kubantu kau melepas jaket, dan kutawarkan padamu segelas teh dingin,
kau menatapku hangat.
“Waduh
! kayak manten anyar wae (seperti pengantin baru saja) pirang ndino se gak
ketemu, (berapahari sih gak bertemu) ? ‘’’Goda Bu, lek, adik ipar ibumu yang
tiba tiba berada dibelakang kita.
Aku
tersipu, setengah menyesal mengapa tadi tak sempat mengingat kalau didapur
banyak orang, kebetulan malam hari nanti ada selamatan tiga harian meninggalnya
saudara kita.
Melihatku
tersipu, sambil tersenyum kau menjawab.
“”yoo
opo se Bu,Lek ! ( gimana se Bu, Lek ini )
Lha dulu jauh jauh tugas kubela belain nguruskan untuk mutasi hingga
berbulan bulan biar kumpul, masak sekarang gak kusayang sayang.?””
Ah,
perempuan mana tak tersanjung dengan kalimat itu ? seandainya saja kau bisa
melihat, kebun bunga didadaku penuh aroma mawar dan melati yang bermekaran.
Begitu
pun 4 hari berikutnya, ketika acara 7 harian saudara ipar kita itu. Kau seperti
biasa kekantor hingga usai maghrib baru menyusulku kerumah ibu.
Seperti
biasa, berpisah sehari (tanpa semalam) denganmu terlalu banyak hal yang harus
segera dan ingin kuceritakan kepadamu. Tentang anak anak kita, tentang teman
teman kantorku, juga perasaanku hari itu,sambil berdiri berhadap hadapan, kau
lingkarkan satu tangan kananmu kepinggangku. Kita terlalu asik bercerita, kita
lupa banyak saudara disitu. Hingga aku harus sekali lagi tersipu malu ketika
mba ida menggoda kita.
“”Aduuuuuuuh
yang pengantin baru ! Lupa sama yang lain.””
Ah,,,,
cinta kita ternyata semakin bermekaran.
*****
Hingga
belasan tahun menikah, kita selalu mesra, selalu bersetia, saling sayang, dan
selalu kompak. Meski, akhir akhir ini kau selalu memprotes dengan kalimat
candaan tentang kondisi kesehatanku yang terus memburuk.
“”Hm,Dik,
rasanya kita mulai tak kompak ?””
“”Maksud
Mas ?”” tanyaku tak mengerti.
“”ya,
mana bisa kompak, kalau aku darah tinggi dan kau darah rendah ?”” katamu sambil
mengacak acak rambutku.
Lalu
kita tertawa bersama seperti biasa.
Alangkah
indahnya cinta kita. Alangkah surga rumah tangga kita. Ada engkau yang selalu
cinta dan setia untukku, juga aku, engkau yang selalu bersiap membenahi segala
urusan rumah kita, mulai bayar air, telpon, biaya sekolah anak anak, membenahi
lampu bila mati, kran air, memanggil tukang bila perlu, mengantar dan menjemput
anak anak kesekolah, dan semua semuanya kau lakukan penuh cinta.
Tak
pernah mengeluh, hanya selalu kau minta memijat punggung, pinggang, bahu, kaki
bahkan seluruh tubuhmu bila kau lelah. Akupun selalu berusaha tak mengeluh. Aku
bahagia karena kau membutuhkan aku, sama seperti aku membutuhkanmu.
Dan,
ada anak anak yang selalu membuat hidup kita berwarna dan bermakna.
Kadang
bila kita berjauhan, bahkan saat aku berada dalam pelukanmu, kubayangkan apakah
aku sanggup hidup tanpamu ? tak ada hal yang kuselesaikan, kuraih, kunikmati,
dalam hidup ini tanpa bantuanmu, kehadiranmu.
Membayangkan
hal kecil saja, semisal saat listrik konslet atau kran air mati, aku sudah
kebingungan.aku tak pernah belajar. Tak pernah melakukannya, kau pun melarangku
melakukannya.
Katamu,
aku lebih baik mendampingi anak anak belajar atau menulis dan mengerjakan tugas
tugasku yang lain, Ya, kau selalu menyiapkan tanganmu, bahumu, dadamu, bahkan nyawamu
untukku.
Kau
pun selalu memaapkan salah dan khilafku. Sungguh, dalam hidupku tak kutemui
orang setelah ibu-bapakku, yang mencintaiku, dan selalu memaapkanku, selain
engkau, lalu salahkah bila aku membayangkan takkan sanggup hidup tanpamu ?
betapa berartinya kau padaku.
Kini,
ketika kucoba membalik kenyataan itu, ketika kubayangkan tiba-tiba maut
menjemputku lebih cepat, dan aku harus kembali pada-Nya meninggalkanmu dan
anak-anak, rasanya seperti meluluhlantakkan tulang-tulangku sendiri. Gemetar
seluruh tubuhku menggigil. Air mata yang hampir menetes itu kutelan kembali,
kubiarkan menjadi lautan tangis didadaku. Biar hanya dia yang mendengar.
Tak
sanggup kubayangkan dirimu sendirian, membagi waktu antara bekerja dan
membimbing anak-anak. Tak sanggup kubayangkan sepi dan dinginmu malam-malam
saat seluruh tubuhmu lelah. Tak sanggup kubayangkan.
“”Mas,””
sore kemarin kuberanikan diri memulai percakapan.
“”Hmm,””
katamu sambil menatap televisi yang menayangkan berita banjir lahar dingin di
magelang.
“”Mas,
peluk aku,”” Pintaku lirih.
Sore
itu hanya ada kita dirumah, anak anak belum ada yang pulang dari mengaji
dimasjid.
“”Kenapa
? sakit ?”” katamu langsung memelukku hangat.
“”Mas,,””
suaraku gemetar. Air mata yang kutahan seharian ini merebak juga.
“”Kau
kenapa ?”” kau menatapku penuh kekhawatiran.
“”Bila,
suatu saat hari kelak aku harus pergi lebih dulu, carilah penggantiku.””
“”Ssst
! jangan ngomong itu.””
Kau
mencium keningku lembut. Beberapa waktu kita terdiam. Hanya kurasakan nafasmu
tak lagi beraturan.
“”Gak.
Mas, Beneran. Aku ikhlas. Mas harus mencari penggantiku, kasihan anak-anak.
Kasihan mas gak ada yang ngurusi,”” kataku lagi.
Kau
memegang erat tanganku.
“”Dik,,
kita telah hidup bersama berpuluh-puluh tahun. Aku bahagia sangat bahagia. Tak
semudah itu menggantikanmu dengan yang lainnya. Lagi pula aku tak yakin akan
mendapatkan istri yang lebih baik darimu. Bisa-bisa aku mendapatkan yang lebih
bawel darimu,’’’ katamu mengakhiri jawaban itu dengan bercanda.
Aku
tahu. Sangat tahu. Aku bawel. Namun, kau
pun menyukainya. Hingga bila tiba-tiba dalam sehari tak ada cerita baru yang
kubagikan padamu, kau akan dengan cemas bertanya apakah aku sakit.
‘’’’Mas.
Aku serius ! selain itu, si cantik kelak harus jadi dokter. Yang lain
terserah.””
Kau
menatapku dan segera sadar bahwa aku bicara serius.
“’’Mas.
fotolah aku sepuas Mas, selama masih segar tubuhku, masih canntik wajahku, dan
masih manis senyumku. Biar kenangan indah ini akan tetap terfatri dalam
hatimu.’’’
Kau
diam. Tak menjawab. Adzan Ashar terdengar, kau bersegera ambil wudhu lalu kemasjid.
Tanpa salam seperti biasanya.
Mungkinkah
hatimu sehancur hatiku kini ? kau tentu masih ingat, ketika dalam tangis
tersedu kuceritakan betapa bayangan kematian itu terasa semakin dekat
akhir-akhir ini bagiku. Aku tahu, meski kau katakana bahwa hidup dan mati itu
urusan Tuhan, tapi kaupun tak siap, bila ketakutanku menjadi kenyataan.
Seminggu
yang lalu, dokter menyuruhku untuk melakukan berbagai tes. Beberapa jenis tes
darah untuk melihat kelainan apa yang menyebabkan selalu terjadi pendarahan
pada bagian kewanitaanku, setiap kali habis kutunaikan tugasku sebagai seorang
istri padamu.
Darah
segar yang membuatku begitu ketakutan, tiap
kali kau menyentuhku. Syukurlah kau mengerti dan bersabar menerima keadaan
itu.
Sambil
menunggu hasil tes dari laboratorium, kucoba bertanya kepada beberapa temanku
yang kebetulan menjadi dokter atau bidan. Dari mereka aku tahu bahwa pendarahan
yang terjadi itu, bias jadi merupakan pertanda adanya kanker dirahimku.
Dua
malam aku hamper tak sanggup memejamkan mata. Ketika kau menanyakan padaku
apakah ada yang sedang aku pikirkan, dengan air mata berderai kujawab pelan.
‘’’’Mas.
Pendarahan itu mungkin saja pertanda adanya sel kanker dirahimku.’’’
Kau
terkejut sesaat. Lalu dengan lembut kau memelukku.
“’’Itu
kan baru secara Teoritis. Berdoalah semoga tidak terjadi apa-apa.’’’
“’’Mas.
Aku takut.’’’
Dan
seperti biasanya, tanpa banyak kata kau memelukku, mengelus rambutku.
Tetapi
ketika besok pagi, ketika hasil tes laboratorium itu kuterima, masihkah aku
sanggup menatap dunia bila ternyata dirahimku benar-benar ditemukan kanker.
Ya
Allah. Aku benar –benar ketakutan.
Sepulang
dari masjid, kau cium pipiku. Lalu kau rengkuh tubuhku dipangkuaanmu.
‘’’’Diantara
semua hal yang kau katakana tadi, hanya satu yang kusetujui.’’’
“””Apa
Mas ?””
“”Memotretmu
dalam berbagai gaya. Nah sekarang mandilah. Lalu berdandan yang cantik. Biarkan
kupenuhi permintaanmu.’’’’
Sekali
ini aku tersipu. Aku tahu pikiranmu. Kau suka memotretku, memaksaku nakal.’’
Kau memang anugerah terindah bagiku. Bila benar esok aku harus menerima suratan
takdir mengerikan itu. Aku tahu, aku memilikimu. Memiliki lelaki terbaik yang
akan selalu mendampingiku dalam keadaan apapun.
-oleh
Faradina Izdihary-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar