Minggu, 11 Agustus 2013

Ketika Aku Terbaring Nanti

KETIKA AKU TERBARING NANTI

Hari sabtu ini, seperti juga sabtu sabtu lain beberapa bulan ini. Kau selalu lembur. Hari liburmu fraktis tinggal sehari, hari minggu saja. Seperti anak anak sekolah saja.
Nanti pulang jam berapa mas ? tanyaku sebelum melepas keberangkatanmu.
Sekitar jam 3, banyak kontrak yang harus kuperiksa dan kuparaf. Kontraktor sudah pada teriak. Maklum tutup tahun. Paling lambat tanggal 12 ini sudah kelar.’’ Katamu sambil memakai jaket hitam kesayanganmu.
Kubantu menutup resleting jaketmu, dan kau mencium keningku, seperti biasa lembut dan mesra.
Jangan lupa maemnya, kataku sebelum akhirnya kupelas kepergian mu diujung gang dan kau berbelok kekanan, menghilang dari pandangan mataku.
Mengantarmu berangkat kerja, meski hanya dari halaman rumah sederhana kita, dengan tatapan mata penuh cinta dan doa selalu membuat hatiku berdebar debar.
Debaran yang masih sama, bahkan jauh lebih menggelora dibanding debar pertama hamper 18 tahun yang lalu saat kau menyentuhku pertama kalinya.
Cintakah ? Nafsu ? Ah,,, buat apa memusingkan kepala hanya untuk menjatuhkan pilihan antara dua kata itu, Toh, mau bilang cinta buktinya aku selalu bernafsu saat berada didekatmu, bahkan saat kau tinggalkan tugas keluar kota.
Nafsu ? Ah,,, mengapa juga harus malu ? bukankah perkawinan telah membuat Tuhan menghalalkan, bahkan menjadikan nafsu paling dasar menjadi halal bagi kita ? bahkan bernilai ibadah.
Kau tentu masih ingat, bukan ? bagaimana minggu lalu ketika seharian aku dirumah ibumu ? sepulang dari kantor kau menjemputku. Seperti biasa pula kucium tanganmu. Kubantu kau melepas jaket, dan kutawarkan padamu segelas teh dingin, kau menatapku hangat.
“Waduh ! kayak manten anyar wae (seperti pengantin baru saja) pirang ndino se gak ketemu, (berapahari sih gak bertemu) ? ‘’’Goda Bu, lek, adik ipar ibumu yang tiba tiba berada dibelakang kita.
Aku tersipu, setengah menyesal mengapa tadi tak sempat mengingat kalau didapur banyak orang, kebetulan malam hari nanti ada selamatan tiga harian meninggalnya saudara kita.
Melihatku tersipu, sambil tersenyum kau menjawab.
“”yoo opo se Bu,Lek ! ( gimana se Bu, Lek ini )  Lha dulu jauh jauh tugas kubela belain nguruskan untuk mutasi hingga berbulan bulan biar kumpul, masak sekarang gak kusayang sayang.?””
Ah, perempuan mana tak tersanjung dengan kalimat itu ? seandainya saja kau bisa melihat, kebun bunga didadaku penuh aroma mawar dan melati yang bermekaran.
Begitu pun 4 hari berikutnya, ketika acara 7 harian saudara ipar kita itu. Kau seperti biasa kekantor hingga usai maghrib baru menyusulku kerumah ibu.
Seperti biasa, berpisah sehari (tanpa semalam) denganmu terlalu banyak hal yang harus segera dan ingin kuceritakan kepadamu. Tentang anak anak kita, tentang teman teman kantorku, juga perasaanku hari itu,sambil berdiri berhadap hadapan, kau lingkarkan satu tangan kananmu kepinggangku. Kita terlalu asik bercerita, kita lupa banyak saudara disitu. Hingga aku harus sekali lagi tersipu malu ketika mba ida menggoda kita.
“”Aduuuuuuuh yang pengantin baru ! Lupa sama yang lain.””
Ah,,,, cinta kita ternyata semakin bermekaran.
*****
Hingga belasan tahun menikah, kita selalu mesra, selalu bersetia, saling sayang, dan selalu kompak. Meski, akhir akhir ini kau selalu memprotes dengan kalimat candaan tentang kondisi kesehatanku yang terus memburuk.
“”Hm,Dik, rasanya kita mulai tak kompak ?””
“”Maksud Mas ?”” tanyaku tak mengerti.
“”ya, mana bisa kompak, kalau aku darah tinggi dan kau darah rendah ?”” katamu sambil mengacak acak rambutku.
Lalu kita tertawa bersama seperti biasa.
Alangkah indahnya cinta kita. Alangkah surga rumah tangga kita. Ada engkau yang selalu cinta dan setia untukku, juga aku, engkau yang selalu bersiap membenahi segala urusan rumah kita, mulai bayar air, telpon, biaya sekolah anak anak, membenahi lampu bila mati, kran air, memanggil tukang bila perlu, mengantar dan menjemput anak anak kesekolah, dan semua semuanya kau lakukan penuh cinta.
Tak pernah mengeluh, hanya selalu kau minta memijat punggung, pinggang, bahu, kaki bahkan seluruh tubuhmu bila kau lelah. Akupun selalu berusaha tak mengeluh. Aku bahagia karena kau membutuhkan aku, sama seperti aku membutuhkanmu.
Dan, ada anak anak yang selalu membuat hidup kita berwarna dan bermakna.
Kadang bila kita berjauhan, bahkan saat aku berada dalam pelukanmu, kubayangkan apakah aku sanggup hidup tanpamu ? tak ada hal yang kuselesaikan, kuraih, kunikmati, dalam hidup ini tanpa bantuanmu, kehadiranmu.
Membayangkan hal kecil saja, semisal saat listrik konslet atau kran air mati, aku sudah kebingungan.aku tak pernah belajar. Tak pernah melakukannya, kau pun melarangku melakukannya.
Katamu, aku lebih baik mendampingi anak anak belajar atau menulis dan mengerjakan tugas tugasku yang lain, Ya, kau selalu menyiapkan tanganmu, bahumu, dadamu, bahkan nyawamu untukku.
Kau pun selalu memaapkan salah dan khilafku. Sungguh, dalam hidupku tak kutemui orang setelah ibu-bapakku, yang mencintaiku, dan selalu memaapkanku, selain engkau, lalu salahkah bila aku membayangkan takkan sanggup hidup tanpamu ? betapa berartinya kau padaku.
Kini, ketika kucoba membalik kenyataan itu, ketika kubayangkan tiba-tiba maut menjemputku lebih cepat, dan aku harus kembali pada-Nya meninggalkanmu dan anak-anak, rasanya seperti meluluhlantakkan tulang-tulangku sendiri. Gemetar seluruh tubuhku menggigil. Air mata yang hampir menetes itu kutelan kembali, kubiarkan menjadi lautan tangis didadaku. Biar hanya dia yang mendengar.
Tak sanggup kubayangkan dirimu sendirian, membagi waktu antara bekerja dan membimbing anak-anak. Tak sanggup kubayangkan sepi dan dinginmu malam-malam saat seluruh tubuhmu lelah. Tak sanggup kubayangkan.
“”Mas,”” sore kemarin kuberanikan diri memulai percakapan.
“”Hmm,”” katamu sambil menatap televisi yang menayangkan berita banjir lahar dingin di magelang.
“”Mas, peluk aku,”” Pintaku lirih.
Sore itu hanya ada kita dirumah, anak anak belum ada yang pulang dari mengaji dimasjid.
“”Kenapa ? sakit ?”” katamu langsung memelukku hangat.
“”Mas,,”” suaraku gemetar. Air mata yang kutahan seharian ini merebak juga.
“”Kau kenapa ?”” kau menatapku penuh kekhawatiran.
“”Bila, suatu saat hari kelak aku harus pergi lebih dulu, carilah penggantiku.””
“”Ssst ! jangan ngomong itu.””
Kau mencium keningku lembut. Beberapa waktu kita terdiam. Hanya kurasakan nafasmu tak lagi beraturan.
“”Gak. Mas, Beneran. Aku ikhlas. Mas harus mencari penggantiku, kasihan anak-anak. Kasihan mas gak ada yang ngurusi,”” kataku lagi.
Kau memegang erat tanganku.
“”Dik,, kita telah hidup bersama berpuluh-puluh tahun. Aku bahagia sangat bahagia. Tak semudah itu menggantikanmu dengan yang lainnya. Lagi pula aku tak yakin akan mendapatkan istri yang lebih baik darimu. Bisa-bisa aku mendapatkan yang lebih bawel darimu,’’’ katamu mengakhiri jawaban itu dengan bercanda.
Aku tahu. Sangat  tahu. Aku bawel. Namun, kau pun menyukainya. Hingga bila tiba-tiba dalam sehari tak ada cerita baru yang kubagikan padamu, kau akan dengan cemas bertanya apakah aku sakit.
‘’’’Mas. Aku serius ! selain itu, si cantik kelak harus jadi dokter. Yang lain terserah.””
Kau menatapku dan segera sadar bahwa aku bicara serius.
“’’Mas. fotolah aku sepuas Mas, selama masih segar tubuhku, masih canntik wajahku, dan masih manis senyumku. Biar kenangan indah ini akan tetap terfatri dalam hatimu.’’’
Kau diam. Tak menjawab. Adzan Ashar terdengar, kau bersegera ambil wudhu lalu kemasjid. Tanpa salam seperti biasanya.
Mungkinkah hatimu sehancur hatiku kini ? kau tentu masih ingat, ketika dalam tangis tersedu kuceritakan betapa bayangan kematian itu terasa semakin dekat akhir-akhir ini bagiku. Aku tahu, meski kau katakana bahwa hidup dan mati itu urusan Tuhan, tapi kaupun tak siap, bila ketakutanku menjadi kenyataan.
Seminggu yang lalu, dokter menyuruhku untuk melakukan berbagai tes. Beberapa jenis tes darah untuk melihat kelainan apa yang menyebabkan selalu terjadi pendarahan pada bagian kewanitaanku, setiap kali habis kutunaikan tugasku sebagai seorang istri padamu.
Darah segar yang membuatku begitu ketakutan, tiap  kali kau menyentuhku. Syukurlah kau mengerti dan bersabar menerima keadaan itu.
Sambil menunggu hasil tes dari laboratorium, kucoba bertanya kepada beberapa temanku yang kebetulan menjadi dokter atau bidan. Dari mereka aku tahu bahwa pendarahan yang terjadi itu, bias jadi merupakan pertanda adanya kanker dirahimku.
Dua malam aku hamper tak sanggup memejamkan mata. Ketika kau menanyakan padaku apakah ada yang sedang aku pikirkan, dengan air mata berderai kujawab pelan.
‘’’’Mas. Pendarahan itu mungkin saja pertanda adanya sel kanker dirahimku.’’’
Kau terkejut sesaat. Lalu dengan lembut kau memelukku.
“’’Itu kan baru secara Teoritis. Berdoalah semoga tidak terjadi apa-apa.’’’
“’’Mas. Aku takut.’’’
Dan seperti biasanya, tanpa banyak kata kau memelukku, mengelus rambutku.
Tetapi ketika besok pagi, ketika hasil tes laboratorium itu kuterima, masihkah aku sanggup menatap dunia bila ternyata dirahimku benar-benar ditemukan kanker.
Ya Allah. Aku benar –benar ketakutan.
Sepulang dari masjid, kau cium pipiku. Lalu kau rengkuh tubuhku dipangkuaanmu.
‘’’’Diantara semua hal yang kau katakana tadi, hanya satu yang kusetujui.’’’
“””Apa Mas ?””
“”Memotretmu dalam berbagai gaya. Nah sekarang mandilah. Lalu berdandan yang cantik. Biarkan kupenuhi permintaanmu.’’’’
Sekali ini aku tersipu. Aku tahu pikiranmu. Kau suka memotretku, memaksaku nakal.’’ Kau memang anugerah terindah bagiku. Bila benar esok aku harus menerima suratan takdir mengerikan itu. Aku tahu, aku memilikimu. Memiliki lelaki terbaik yang akan selalu mendampingiku dalam keadaan apapun.

-oleh Faradina Izdihary-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar