Sabtu, 27 April 2013

Dalam pernikahan ada kesulitan ada juga kemudahan***



Sebagaimana Allah telah menghalalkan apa yang dahulu haram disebabkan oleh pernikahan maka Allah pun membebankan kewajiban yang terjadi akibat dari pernikahan. Pembebanan itu merupakan konsekwensi dari kesenangan yang diperoleh dalam pernikahan. Kewajiban yang ditetapkan dalam pernikahan meliputi dua bagian. besarnya itu kewajiban yang bersipat fisik dan kewajiban bersipat hati. Masing-masing bagian itu memiliki porsi yang sama dan saling berkaitan satu sama lain.
Setiap manusia mempunyai kadar yang berbeda dalam memandang dan menghayati pernikahannya dan ini pun berlaku dalam pelaksanaan seluruh kewajiban yang ditetapkan dalam pernikahan. Manusia memiliki perbedaan dalam seberapa dia mampu untuk memenuhi tuntutan pernikahan dan seberapa tingkat kesulitan yang di hadapinya.
Kesulitan yang dihadapi oleh seseorang dalam pernikahannya ada tiga bagian yaitu :
v  Tidak mampu mencari rezeki yang halal.
v  Tidak dapat memenuhi hak istri.
v  Mengurangi  rasa taqwa kepada Allah swt.
Pembahasan tentang berbagai kesulitan yang terjadi dalam pernikahan bukanlah dengan maksud untuk mengecilkan hati dan membuat mundur langkah bagi mereka yang hendak menikah. Pembahasan tentang kesulitan dalam pernikahan merupakan sebuah pembahasan yang wajib diketahui agar dengan pengetahuan itu dapat terhindar dari kesalahan terselubung yang sering tidak disadari dan ternyata dapat membuat seseorang terjerumus dalam perbuatan dosa.
a.       Salah Satu Bentuk Kesulitan
Salah satu tanggung jawab yang dibebankan oleh pernikahan kepada laki-laki adalah tentang pemberian nafkah kepada istrinya. memberi nafkah hukumnya wajib dan tidak dapat digugurkan oleh laki-laki. Pembebanan ini memiliki landasan yang kuat yaitu Al-Qur’an, hadits, Ijma, dan Qiyas.
”dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu (anaknya) dengan cara yang makruf. (Qs. Al-baqarah:233).
“tempatkanlah mereka (para istri) dimana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka dan jika mereka (istri-istri yang sudah ditalak) itu sedang hamil maka berikanlah kepada mereka nafkah hingga mereka bersalin. (Qs. At-thalak:6)
Berdasarkan dalil ijma, maka umat islam telah sepakat mengenai kewajiban suami untuk memberikan nafkah kepada istrinya dan tidak seorangpun yang mengingkarinya. Dari masa Rasulullah saw sampai hari ini. Sedangkan berdasarkan logika, sebenarnya istri tertahan dirumahnya karena pemenuhan hak suaminya dan karena suami berkewajiban untuk mencarikan dia nafkah. Dibuat perumpamaan pegawai umum yang melayani rakyat. Nafkah mereka kewajiban umat dan masyarakat karena mereka menahan haknya dan kemaslahatannya.
            Pemberian nafkah suami kepada istri meliputi makanan, pakaian, tempat tinggal, pembantu bila mampu dan pengobatan. Mengenai seberapa besar jumlah nafkah ada yang berbeda pendapat. Ada yang mengatakan sesuai keadaan suami. Ada yang sesuai dengan keadaan istri dan ada pula yang mengatakan sesuai dengan keadaan mereka berdua. Sebenarnya, hal yang seperti ini merupakan kesepakatan mereka berdua mengenai berapa besar jumlah nafkah yang harus diberikan suami. Yang terpenting adalah keikhlasan kedua belah pihak untuk menerima apa yang telah Allah karuniakan.
            Permasalahan pemberian nafkah ini sering dijadikan kambing hitam (dipermasalahkan) oleh sebagian suami terhadap apa yang telah mereka lakukan bila mereka berbuat kejahatan. Alasannya adalah mereka harus memberikan makan kepada istrinya sehingga nekat berbuat kejahatan. Mereka beralasan bahwa kebutuhan istrinya telah membuat mereka bingung harus mencari kemana sementara keadaan mereka sendiri dalam kesulitan.
            Mencari rezeki yang halal bagi mereka adalah seperti mencari jarum ditumpukan jerami. Sebuah usaha yang sulit sekali. Sementara kebutuhan perut terus berjalan sehingga bagi mereka yang penting mendapatkan rezeki dan tidak peduli halal atau haram.
Coba tengoklah keadaan saat ini, ketika seorang ayah tega mencuri demi tangisan anaknya yang belum makan. Atau seorang ibu yang rela menjual kehormatannya demi uang sekolah anaknya. Apa yang telah mereka lakukan sesungguhnya perbuatan yang tercela namun dipaksakan demi alasan ekonomi keluarga yang sedang kesulitan.
            Inilah kesulitan yang disebut sebagai kesulitan mencari nafkah yang halal dalam keluarga dan mereka merasa tidak berdaya menghadapi kenyataan yang menjerat mereka. Yang penting adalah makan. Tidak peduli dari mana asalnya. Keadaan seperti ini bisa membuat peluang besar terjadinya perbuatan-perbuatan tercela yang diharamkan seperti contoh diatas dan itu bagi mereka adalah keterpaksaan yang harus dilakukan bila mereka tidak ingin mati kelaparan. Keputusan yang seperti ini sebenarnya pelan-pelan membuat mereka terjerumus dalam kesesatan dan rusaklah kehidupan mereka. Segala menjadi sulit ketika justru sang istrilah yang mendorong suami untuk menjalani pekerjaan yang tidak sesuai dengan kebenaran demi tuntutan hidup yang tidak kunjung terpuaskan. Maraknya budaya konsumenrisme seakan-akan membutakan matanya bahwa suami harus memberikan nafkah yang halal bagi keluarganya. Ada hadits yang mengatakan bahwa kelak ada seorang manusia yang kehilangan seluruh kebaikannya karena dimakan oleh keluarganya.
“(pada hari kiamat nanti) ada seorang hamba disuruh berdiri pada timbangan amal, dimana dirinya mempunyai kebaikan seperti gunung,. Kemudian ia ditanya tentang pemeliharaan keluarganya dan pelaksanaan alam memenuhi hak-hak mereka. Ia ditanya tentang hartanya. dari mana ia memperoleh harta tersebut,? Kepada siapa ia membelanjakan hartanya sehingga habis pahalanya itu dengan segala tuntutan seluruh amal perbuatannya, sampai tidak tersisa sedikitpun baginya suatu kebajikan. Seketika itu malaikat berseru: “inilah orang yang ketika di dunia amal kebajikannya dimakan oleh keluarganya, pada hari ini ia tergadai dengan segala perbuatannya”.
Bagi suami yang merelakan diri untuk mencarikan rizki yang tidak halal bagi keluarga, sesungguhnya mereka melupakan bahwa dalam pundaknya terletak surga dan neraka keluarga mereka. Apa yang mereka berikan sebagai makanan dan pakaian yang berasal dari barang halal akan menjadi awal untuk menyegerakan diri kepada perbuatan baik karena dalam tubuh mereka ada harta halal. Demikian pula bila diperoleh  dari harta yang haram. Tubuh keluarganya akan menjadi awal bagi kejahatan-kejahatan berikutnya.
b.      Setelah Kesulitan Pasti Ada Kemudahan
islam menghargai motivasi yang baik dan maksud yang baik pula dan semua yang berdasarkan niat yang tulus untuk mencari nafkah bagi keluarga bahkan Allah mengatakan ada dosa yang tidak bisa gugur kecuali dengan berlelah-lelah mencari nafkah keluarga. Seseorang yang berniat baik akan mendapatkan pahala yang sesuai dengan niatnya.
sesungguhnya amal perbuatan itu (tergantung) kepada niatnya dan sesungguhnya setiap orang mendapatkan apa yang diniatkannya”.(HR.Bukhari)
Walaupun begitu, islam tidak mengijinkan bahwa niat baik untuk menghidupi keluarga dicampuradukkan dengan perbuatan-perbuatan yang tercela apalagi perbuatan keji. Karenanya islam menjaga kesucian niat mencari nafkah dengan kebersihan sarananya. Syariat tidak mengenal prinsip menghalalkan cara dan mendapatkan dkebenaran dengan menyelami banyak kebatilan.
“sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik dan sesungguhnya Allah memerintahkan orang-orang yang beriman dengan hal-hal yang diperintahkan kepada para rasul. Allah berfirman, “wahai para rasul, makanlah dari yang baik-baik dan lakukanlah amal shalihah. Sesungguhnya aku maha mengetahui akan apa yang kalian lakukan.” (Qs. Al-Mukminun:51)
      Bahkan Allah menjanjikan keindahan pertemuan dengan Allah dengan membuat wajah seperti purnama bagi suami yang rela bekerja keras untuk menghidupi keluarganya dengan jalan yang halal. Bukankah itu suatu pertemuan yang menggembirakan.?
      Di akhiratpun, suami akan dihisab pertama kali yang akan berhubungan dengan orang lain adalah yang berkenaan dengan masalah istri dan anaknya. Istri dan anaknya berdiri dihadapan Allah swt, seraya berkata : “Wahai Tuhan kami, ambillah hak-hak kami dari dia, karena sesungguhnya dia tidak mengajarkan kepada kami makanan yang haram. Sedangkan kami tidak mengetahuinya”. seketika itu, Allah swt memotong amalnya untuk diberikan kepada anak istrinya.
      Terkadang kunci kebaikan dan keburukan seseorang terlihat dari apa yang menjadi pusat perhatiannya. Apakah dunia atau akhirat. Sebagian salaf mengatakan bahwa keluarga terkadang menjadi tolak ukur kebaikan dan keburukan seseorang terletak pada  keluarganya.
      Al-Hasan bin Ali ra pernah berkata : Apabila Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba, maka hamba itu tidak disibukkan dengan urusan keluarga dan harta. Ibnu Abil Hawari berkata : telah terjadi perdebatan di kalangan sebagian orang mengenai hadits diatas. Akhirnya mereka berpendapat, bahwa bukannya meniadakan, tetapi dengan adanya pernikahan itu tidak sampai mengganggu ibadahnya. Hal itu sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Abu Sulaiman Ad-Darany, yakni segala Sesuatu yang menghambat dirimu dari beribadah kepada Allah baik disebabkan oleh keluarga, harta atau anak, maka itu merupakan suatu kemalangan bagimu.
      Dengan adanya keluarga, seorang suami diharapkan tetap mengutamakan kecintaan kepada Allah dari pada keluarganya.
Allah swt tidak akan menyertakan sebuah kesulitan kepada seseorang, melinkan pula mengikuti dibelakangnya, sebuah kemudahan. Sebagaimana yang telah tertulis dalam firmannya : fainna ma’al usri yusra (sesungguhnya setiap kesusahan diikuti oleh kemudahan). Bagi yang tidak beriman, banyak orang yang mampu menahan diri dari godaan untuk mencari nafkah untuk keluarganya dari jalan yang haram. Apalagi saat ini kehidupan ekonomi yang demikian sulit, mudah sekali menjurumuskan seseorang untuk berbuat kejahatan dengan terbukanya peluang yang sangat besar untuk itu.
Apalagi bila istri kurang beriman dan agamanya lemah, ia akan meminta kehidupan duniawi yang melebihi kapasitas yang dimilikinya demi mengejar gengsi dan status sosial. Lengkap sudah syarat untuk melakukan kejahatan. Jadi, tinggal bagaimana suami dapat menahan diri dan belajar untuk bersikap qona’ah (merasa cukup dengan rizki yng diperolehnya). Bahkan Rasulullah telah memberikan peringatan yang berkaitan dengan keadaaan suami seperti ini. Sabda Nabi saw :
 akan datang kepada manusia suatu zaman, dimana kehancuran seorang laki-laki terletak ditangan istrinya, kedua orang tuanya dan anak-anaknya. Mereka semua menghinakannya dengan kefakiran serta memberatinya dengan pikulan yang tidak disanggupinya. Lalu ia terjerumus ketempat-tempat yang bisa menghilangkan agamanya, maka rusaklah dia.
Bahkan seorang salaf yang bernama Abu Sulaiman Ad-Dharani, ketika ia ditanya mengenai pernikahan, ia menjawab : Bersabar untuk menikahi wanita lebih baik daripada bersabar atas keburukan wanita dan bersabar terhadap keburukan wanita lebih baik daripada bersabar atas neraka.
      Orang yang berusaha untuk menjalankan kewajibannya mencari nafkah dan tetap menjaga kehormatan suami dengan tidak menuruti kehendak istri dan berusaha mengajarkan kepada istrinya tentang kehidupan yang lebih kekal (akhirat) itulah yang lebih baik adalah suami yang dapat terlepas dari terjerumus dari kejahatan mencari nafkah ditempat yang haram.
      Akhirnya, suami yang berusaha untuk mencari penghidupan dengan cara yang halal akan selalu berpegang kepada hadits berikut agar tidak terjebak dalam mencari nafkah haram demi keluarganya.
      barang siapa mengumpulkan harta dari (harta) yang haram kemudian menyedekahkannya, Ia tidak mendapatkan pahala sedekah tersebut dan dialah yang menanggung dosanya. (HR Ibnu Huzaimah, Ibnu Hibban dan Hakim dari Abu Hurairah ra)
“tiada seorang hamba yang mendapatkan  nafkah haram kemudian menyedekahkannya lalu diterima, tiada pula menafkahkan kemudian diberkahi, tidak pula menyimpannya kecuali ia akan menjadi bekalnya menuju neraka.  Sesungguhnya Allah swt tidak menghapus keburukan dengan keburukan, akan tetapi menghapus keburukan dengan kebaikan. Sesungguhnya, sesuatu yang buruk itu tidak akan membersihkan yang buruk semisalnya. (Ahmad dan lainnya dari Ibnu Mas’ud).
      Kesulitan hidup untuk mencari nafkah yang halal, hendaknya jangan dijadikan alasan untuk takut menikah. Atau karena ingin mendapat kemudahan dalam soal biaya, hingga melakukan pernikahan-pernikahan yang dilaknat Allah swt. misalnya dengan melakukan pernikahan tanpa mahar atau melakukan nikah mut’ah untuk  sebuah percobaan dalam waktu tertentu.
      Yakinlah akan kemurahan Allah kepada setiap hambanya. Jangan mudah berputus Asa jika mendapatkan kesulitan. Karena setiap kesulitan disertai kemudahan.

Best seller
Khudzaifah Al Jarjani

Selasa, 23 April 2013

Tips Menjadi Lawan Bicara Yang Menyenangkan




Tips Menjadi Lawan Bicara Yang Menyenangkan
         
Menjadi lawan atau teman bicara bukan sekedar bisa berbicara dan mendengarkan lawan bicara saja. Jika Anda salah menanggapi, bisa jadi lawan bicara Anda bukannya suka tapi malah sebal. Apalagi jika tanggapan Anda terkesan sok tahu dan menggurui. Begitu juga jika Anda Cuma mendengarkan dan mengangguk-angguk tanpa sepatah kata pun. Sikap seperti ini mengesankan Anda sama sekali bukanlah teman bicara yang mengasyikkan. Ada aturan dan kiat tersendiri agar orang lain merasa nyaman bercakap cakap dengan Anda.

·         Kenali Gaya Lawan Bicara
Mana mungkin Anda bisa menjadi teman bicara  yang menyenangkan bila Anda tidak mengenal siapa yang Anda ajak bicara ? seandainya belum mengenal, tentu tidak ada salahnya bila Anda minta kenalan lebih dulu. Ingat, jangan sampai melupakan nama teman bicara Anda. Sebab, dengan disebut namanya, seseorang akan merasa lebih dihargai. Sebaliknya jika Anda lupa namanya, ia merasa bahwa Anda tidak antusias dengannya. Dia pun akan menganggap Anda tidak menghargainya
·       
            Sesuaikan Diri Dengan Lawan Bicara
Dalam hidup ini, tentu Anda telah berbicara dengan banyak orang dari berbagai latar belakang budaya, usia, tingkat ekonomi, pendidikan, dan sebagainya. Konsekuensinya, tiap pembicaraan memiliki ciri dan kepekaan tersendiri. Tentu saja Anda harus bisa membedakan saat berbicara dengan bos atau dengan office boy. Perhatikan pilihan kata yang mungkin tidak dimengerti lawan bicara. Jangan menggunakan istilah teknis atau yang terlalu ilmiah jika Anda berbicara dengan mereka yang memang tidak memahami ‘bahasa susah’. Ingat, semakin banyak kata kata Anda yang tidak dimengerti, lawan bicara semakin tidak nyaman bicara dengan Anda.
·        
      Beri Kesempatan Lawan Bicara
Selama ini banyak yang tanpa sadar mendominasi pembicaraan hingga melupakan keberadaan lawan bicara. Hingga Anda terkesan memonopoli pembicaraan. Akibatnya teman bicara Cuma dijadikan sebagai pendengar pasif. Kecenderungan ini bisa terjadi bila terlalu banyak yang hendak Anda ucapkan. Akibatnya arah pembicaraan pun jadi tak jelas. Maka beri jeda sejenak setiap kali Anda bicara lalu berikan kesempatan lawan bicara untuk menanggapi. Interaksi semacam ini akan membuat lawan bicara merasa nyaman dan dihargai.
·        
      Hindari Kebiasaan Memotong Lawan Bicara
Jangan kebiasaan memotong pembicaraan disaat rekan Anda masih bicara. Jika Anda ingin memberi komentar, tahan diri sampai ia menyelesaikan pembicaraan atau paling tidak sampai ia memberi Anda kesempatan berbicara. Seandainya Anda tidak setuju dengan pembicaraannya, jangan langsung mengatakan ketidak setujuan secara langsung, misalnya, “saya tidak setuju…’’ atau “Anda salah…” Lebih baik Anda mengatakan, “Menurut saya lebih baik jika…”. Cara seperti ini akan membuat lawan bicara lebih menghargai Anda.
·        
            Jadilah Pendengar Yang Baik
Jangan Cuma lawan bicara yang harus mendengarkan Anda bicara. Saat ia bicara pun Anda harus menjadi pendengarnya yang baik. Simak semua ucapannya dengan seksama. Sehingga Anda bisa memahami semua pembicaraannya dan tidak terjadi misunderstanding. Dengan demikian, lawan bicara pun merasa lebih dihargai oleh Anda.

·         Tunjukkan Ekspresi Sewajarnya
Jangan menunjukkan ekspresi secara berlebihan. Misalnya lawan bicara menceritakan hal sedih, Anda sampai menangis tersedu-sedu. Atau jika ia menceritakan tentang kemarahannya, Anda mendadak marah dengan wajah merah padam,. Hal ini akan membuat lawan bicara memandang aneh pada Anda. Tunjukkan ekspresi wajar. Yang terpenting adalah Anda dapat memahami lawan bicara dengan menunjukkan ekspresi yang iapun tahu bahwa Anda memahaminya.

·         Jaga Kontak Mata
Fokuskan tatapan Anda pada lawan bicara. Karena pandangan Anda yang berkeliaran kesana kemari saat diajak bicara menunjukkan bahwa Anda tidak antusias dengan pembicaraannya. Bisa-bisa ia akan menganggap Anda meremehkannya. Tapi bukan berarti Anda harus melototi lawan bicara terus menerus. Mengalihkan kontak mata sesekali tidak masalah, tapi jangan terlalu sering dan jangan terlalu jauh membuang pandangan. Hal ini akan membuat Anda seperti orang yang melamun saat diajak bicara.

Dengan demikian Anda telah menguasai teknik berkomunikasi dengan baik. Anda pun telah menjadi lawan bicara yang menyenangkan. Dan menjadi lawan bicara yang menyenangakan akan mempermudah lajunya jalan karir Anda. Karena bagaimana karir Anda berjalan mulus jika diajak berbicara Anda sama sekali tidak memberikan rasa nyaman? So, mulai sekarang pelajari kiatnya, agar Anda menjadi teman bicara yang meyenangkan..! Semoga Berguna

Panduan  Terpenting  Seni  Berbicara
Jingga  Gemilang

Senin, 22 April 2013

Definisi Ilmu Politik






Definisi Ilmu Politik
            Ilmu politik adalah ilmu yang mempelajari politik atau politics atau kepolitikan. Politik adalah usaha menggapai kehidupan yang lebih baik. Mengapa politik dalam arti ini begitu penting ? karena sejak dahulu kala masyarakat mengatur kehidupan kolektif dengan baik mengingat masyarakat sering menghadapi terbatasnya sumber daya alam, atau perlu dicari satu cara distribusi sumber daya agar semua warga merasa bahagia dan puas. Ini adalah politik.

Pada umumnya dapat dikatakan bahwa politik (politics) adalah usaha untuk menentukan peraturan peraturan yang dapat diterima baik oleh sebagian besar warga, untuk membawa masyarakat kearah kehidupan bersama yang harmonis. Usaha menggapai the good life ini menyangkut berbagai macam-macam kegiatan yang antara lain menyangkut proses penentuan tujuan dari sistem, serta cara-cara melaksanakan tujuan itu. 

Berikut ini adalah beberapa definisi :
1.      Harold D. Laswell dan A. Kaplan dalam power and society: ilmu politik mempelajari pembentukan dan pembagian kekuasaan.:
2.      W.A.Robson, dalam the university Teaching of Social Sciences,mengatakan: ilmu politik mempelajari kekuasaan dalam masyarakat. Yaitu sipat hakiki, dasar, proses-proses, ruang lingkup, dan hasil-hasil.
3.      Deliar Noer dalam pengantar ke pemikiran politikmenyebutkan: ilmu politik memusatkan perhatian pada masalah kekuasaan dalam kehidupan bersama atau masyarakat.
4.      Ossip K. Fletchteim dalam  fundamental of Political Sciencemenegaskan: ilmu Politik adalah ilmu sosial yang khusus mempelajari sifat dan tujuan dari Negara sejauh Negara merupakan organisasi kekuasaan, beserta sipat dan tujuan dari gejala-gejala kekuasaan lain yang tidak resmi yang dapat mempengaruhi Negara.
5.      Joyce Mitchell, dalam bukunya political Analysis and fublic policymengatakan: politik adalah pengambilan keputusan kolektif atau pembuatan kebijakan umum untuk masyarakat seluruhnya.
6.      Karl W. Deutsch berpendapat: Politik adalah pengambilan keputusan melalui sarana umum.

Tetapi tidak dapat disangkal bahwa dalam pelaksanaannya, kegiatan politik, disamping segi-segi yang baik, juga mencakup segi-segi yang negative. Hal ini disebabkan karena politik mencerminkan tabiat manusia, baik nalurinya yang baik maupun nalurinya yang buruk. Perasaan manusia yang beraneka ragam sipatnya, sangat mendalam dan sering bertentangan, mencakup rasa cinta, benci, setia, bangga, malu, dan marah. Tidak heran jika dalam realitas sehari-hari kita acapkali berhadapan dengan banyak kegiatan yang tak terpuji, atau seperti yang dirumuskan oleh Peter Merkl sebagai berikut : Politik, dalam bentuk yang paling buruk, adalah perebutan kekuasaan, kedudukan, dan kekayaan untuk kepentingan diri sendiri. Singkatnya, politik adalah perebutan kuasa, takhta, dan harta. Dibawah ini ada dua sarjana yang menguraikan definisi politik yang berkaitan dengan maslah konflik dan consensus.
1.      Menurut Rod Hague  et al : Politik adalah kegiatan yang menyangkut cara bagaimana kelompok-kelompok mencapai keputusan-keputusan yang bersipat kolektif dan mengikat melalui usaha untuk mendamaikan perbedaan-perbedaan diantara anggota-anggotanya.
2.      Menurut Andrew Heywood : Politik adalah kegiatan suatu bangsa yang bertujuan untuk membuat, mempertahankan, dan mengamandemen peraturan-peraturan umum yang mengatur kehidupannya, yang berarti tidak dapat terlepas dari gejala konflik dan kerja sama.

v  Negara
Negara adalah suatu organisasi dalam suatu wilayah yang memiliki kekuasaan tertinggi yang sah dan ditaati oleh rakyatnya.
Para sarjana menekankan Negara sebagai inti dari politik (politics), memusatkan perhatiannya pada kelembaga-lembaga kenegaraan serta bentuk formalnya. Definisi ini bersipat tradisional dan agak sempit ruang lingkupnya. Pendekatan ini dinamakan pendekatan Institusional. Berikut ini beberapa definisi:
            Roger F.Soltau, dalam bukunya introduction to politicsmengatakan : Ilmu politik mempelajari Negara, tujuan-tujuan Negara. Dan lembaga-lembaga yang akan melaksanakan tujuan-tujuan itu, hubungan antara Negara dengan warganya serta hubungan antar Negara.
            J. Barents, dalam ilmu politika : Ilmu politik adalah ilmu yang mempelajari kehidupan bermasyarakat. Dengan Negara sebagai bagiannya. ilmu Politik mempelajari Negara dan bagaimana Negara tersebut melakukan tugas serta fungsinya.

v  Kekuasaan
Kekuasaan adalah kemampuan seseorang atau suatu kelompok untuk mempengaruhi prilaku seseorang atau kelompok lain, sesuai dengan keinginan para pelaku.
Sarjana yang melihat kekuasaan inti dari politik beranggapan bahwa politik adalah semua kegiatan yang menyangkut masalah memperebutkan dan mempertahankan kekuasaan. Biasanya dianggap bahwa perjuangan kekuasaan ini mempunyai tujuan yang menyangkut kepentingan seluruh masyarakat.

v  Pengambilan Keputusan
Keputusan (decision) adalah hasil dari membuat pilihan diantara beberapa alternative, sedangkan istilah pengambilan keputusan (decision making)menunjuk pada proses yang terjadi sampai keputusan itu tercapai. Pengambilan keputusan sebagai konsep pokok dari politik menyangkut keputusan-keputusan yang diambil secara kolektif mengikat seluruh masyarakat. Keputusan-keputusan itu dapat menyangkut tujuan masyarakat, dapat pula menyangkut kebijakan-kebijakan untuk mencapai tujuan. Setiap proses membentuk kebijakan umum atau kebijakan pemerintah adalah hasil dari suatu proses mengambil keputusan, yaitu memilih beberapa alternative yang akhirnya ditetapkan sebagai kebijakan pemerintah.

v  Kebijakan Umum
Kebijakan(policy) adalah suatu kumpulan keputusan yang diambil oleh seorang pelaku atau kelompok politik, dalam usaha memilih tujuan dan cara untuk mencapai tujuan itu.
Berikut ini ada beberapa definisi :
Menurut hoogewerf, yang dimaksud dengan kebijakan umum adalah membangun masyarakat secara terarah melalui pemakaian kekuasaan.
            Menurut David Easton dalam buku the political systemmenyatakan: kehidupan politik mencakup bermacam-macam kegiatan yang mempengaruhi kebijakan dari pihak yang berwenang, yang diterima untuk suatu masyarakat, dan yang mempengaruhi cara untuk melaksanakan kebijakan itu. Kita berfartisipasi dalam kehidupan politik jika aktivitas kita ada hubungannya dengan pembuatan dan pelaksanaan kebijakan untuk suatu masyarakat.

v  Pembagian (Distribution) atau Alokasi
Pembagian (Distribution) atau Alokasi ialah pembagian dan penjatahan nilai-nilai (values) dalam masyarakat.  Dalam ilmu sosial, suatu nilai (values) adalah sesuatu yang dianggap baik dan benar, Sesuatu yang diinginkan, Sesuatu yang mempunyai harga dan oleh karenanya dianggap baik dan benar, Sesuatu yang ingin dimiliki oleh manusia. Nilai ini dapat bersipat abstrak seperti penilaian (judgement) atau suatu asas seperti misalnya kejujuran, kebebasan berpendapat dan kebebasan mimbar. Nilai juga bersipat konkret (material) seperti rumah, kekayaan, dan sebagainya.
            Harold Laswell dalam buku Who Gets What, When, Howmengatakan, Sistem politik adalah keseluruhan dari Interaksi-interaksi yang mengatur pembagian nilai-nilai secara aurotitatif (berdasarkan wewenang) untuk dan atas nama masyarakat.

Dengan demikian kita sampai pada kesimpulan bahwa politik dalam suatu Negara (state) berkaitan dengan masalah kekuasaan (power) pengambilan keputusan (decision making) kebijakan public (public policy) dan alokasi atau distribusi (allocation ordistribution).

Dasar Dasar Ilmu Politik
Prof. Miriam Budiardjo





Minggu, 14 April 2013

Kedermawanan di tengah Kesempitan




بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّØ­ْÙ…َÙ†ِ اارَّØ­ِيم


Pada zaman sekarang ini, dalam keadaan lapang saja terkadang seseorang enggan menerima tamu. Melayani tamu terasa hanya merepotkan saja. Apalagi dalam keadaan sempit seperti itu. Hampir-hampir tak terpikirkan untuk memberi. Bahkan inginnya justru mengambil atau meminta. Padahal, dibalik kesempitan itu ada peluang meraih keberuntungan dan kemuliaan dari Allah. Nah tidakkah kita ingin menggapainya ?
Pintu Keberuntungan
            Bagaimana dengan kita sendiri ? saat dalam keadaan lapang, mungkin kita mampu memberi, apalagi dapat rejeki nomplok, kita pun tak segan berbagi. Mengundang family, tetangga, kenalan untuk makan-makan dan memberi bingkisan. Tapi itu semua bukan keistimewaan. Sebagai orang yang telah mendapat karunia, kita memang sudah semestinya wajib bersyukur.
Namun bagaimana halnya dalam keadaan sempit ? yang sering terjadi adalah merasa tidak mampu memberi. Bahkan terkadang meski sebenarnya ada yang bisa disisihkan, ada perasaan belum bisa memberi, karena keperluan diri yang masih banyak. Kebutuhan kan tak terbatas ? Demikian pikirnya. Setelah kebutuhan frimer terpenuhi, muncul kebutuhan skunder. Kemudian muncul lagi kebutuhan tersier. Bahkan tidak jarang memaksakan diri memenuhi keinginan dengan berutang sampai-sampai lebih besar pasak dari pada tiang. Bagaimana akan mampu memberi jika dirinya selalu merasa kekurangan ? Sebesar apapun tidak akan pernah cukup. Bukan karena kurang banyak hartanya, tetapi diri ini telah terjangkit penyakit hidup serakah dan panjang angan-angan.
Yang membuat seseorang kian berat bedermawan adalah adanya rasa cinta yang berlebihan dengan kekayaan. Harta dunia itu telah masuk menghujam dalam hati sehingga terasa sangat berat melepaskannya. Eksistensi dirinya telah digantungkan kepada harta. Apalagi jika ia merasa sangat memerlukannya. Seolah itulah satu-satu tali pengaman dirinya. Memberi berarti memutuskan tali pengaman yang akan membuatnya terjatuh dalam kesengsaraan. Ibarat seorang pemanjat tebing yang jatuh terhempas kedasar jurang.
            Itulah ilusi nafsu dan tipuan setan. Saat demikian itu, seseorang telah ditutup mata hatinya bahwa Allah Maha Pemurah. Perintah Allah agar berkorban dipandangnya akan menyengsarakan dirinya. Padahal Allah hendak menempatkannya pada tempat kemuliaan, jika ia berani melepaskan hartanya dijalan Allah. Bahkan saat dirinya sangat  membutuhkannya, itulah pintu terdekat keberuntungan bagi orang yang mampu berkorban. Inilah tanda dari seseorang yang memiliki kualitas taqwa yang sebenarnya (muttaqin).
Orang demikian itu, sandaran utamanya bukan lagi harta benda, tetapi Allah. Ia lebih memercayai  dan meyakini yang disisi Allah daripada yang ada di genggamannya. (Muttaqin yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS. Ali Imran 3: 134)
Bersyukurlah mereka yang mampu memberi, meski dalam kesempitan. Ia mengutamakan orang lain meski dirinya sangat membutuhkan.
Ekspresi terindah dari persaudaraan adalah adanya kelapangan hati. Kita hendaknya sabar menerima kekurangan dan kelebihan teman. Berikan pintu maaf atas kekhilafannya. Tingkatan yang lebih tinggi lagi adalah menyintai saudaranya seperti menyintai diri sendiri. Sesungguhnya pintu-pintu keberuntungan menuju Allah sangat dekat.
Tetapi hati inilah yang telah terhijab serakah, cinta dunia dan egois. Saat kita dalam kesempitan ada peluang memasuki pintu kemuliaan, yaitu dengan memberi dan berkorban.

“wallaahu a’lam bishshawab”
by. Embun Kehidupan

Shalat Yang Mempesona




Dimanakah Allah ? Dia jauh ataukah dekat ? dan kenapa untuk bertemu dengannya mesti lewat cara shalat ? pertanyaan itu menjadi guidance dalam proses pencarian. Ketika melihat titik terang. Bahwa Allah “ternyata begitu dekat” dengan kita, ketika kita “menyadari” betapa dekat nya dia. Dan Allah, tiba tiba “terasa begitu jauh” ketika kita ”tidak menyadari” atau “lupa menyadari” kehadirannya.

Meskipun, kenyataannya, Allah sangatlah dekat dengan kita, bahkan lebih dekat dari urat leher kita sendiri (QS. 50 : 16). Dia juga meliputi langit dan bumi, termasuk kita dan seluruh mahluknya (QS. 4 : 126). Namun “Kehadirannya” dalam kehidupan kita, ternyata seiring dan sesuai dengan kualitas kesadaran yang kita bangun. Ya, di “KESADARAN” itulah “TITIK TEMU” kita dengan Allah.

Maka, kita melihat, betapa pertemuan dengan Allah itu bergantung kepada kemampuan kita membangun kualitas kesadaran kita. Ini memang tidak mudah, karena kesadaran kita terkadang naik, kadang turun. (kemampuan untuk “melihat” dan “merasakan” hakekat suatu kejadian).

Kalau seseorang mengalami suatu kejadian tetapi dia tidak bisa “melihat” dan “merasakan” makna yang terkandung didalamnya, maka dia sesungguhnya tidak dalam keadaan “sadar”. Atau setidak-tidaknya, kesadarannya rendah. Orang yang demikian ini, suatu kali akan bisa “terjatuh” dalam persoalan yang sama bahkan berkali kali.

Sebaliknya, orang yang sadar, adalah orang yang bisa “Melihat” dan “Merasakan” makna atas kejadian tertentu. Dia bisa menhambil pelajaran dari kejadian itu. Dia peka, bahwa di balik kejadian itu ada MAKNA”. Dia juga paham, bahwa kejadian itu bukanlah sesuatu yang kebetulan terjadi. Dia berhasil “melihat” dan “memahami” bahkan “merasakan”, bahwa ada “SUATU KEKUATAN” yang hadir dibalik kejadian itu. Maka inilah orang yang “SADAR” itu.

Untuk mencapai tingkat kesadaran yang demikian tinggi, butuh proses yang sangat panjang. Dan latihan bertahun-tahun. Bahkan mungkin berpuluh tahun, sepanjang kehidupan. Itulah yang kita lakukan lewat ibadah shalat. Shalat adalah sebuah proses amalan, sekaligus latihan untuk membangun kualitas kesadaran. Diharapkan dengan shalat yang baik terus-menerus dan berulang-ulang, kualitas kesadaran kita akan meningkat. Sehingga akhirnya, kita bisa “bertemu” Allah dalam seluruh penjuru kehidupan kita.

Rasulullah Saw telah ”bertemu” dengannya, didalam perjalanan Isra’Mi’raj. Beliau mengajarkan kepada kita, kalau kita ingin bertemu dengannya, lakukanlah shalat. Didalam shalat itulah kita bakal bertemu dengannya. Kapan ? ketika seluruh kesadaran memuncak dalam kehusyukan tertinggi dalam shalat kita. Maka, ketika makna shalat telah terefleksi dalam kehidupan kita, Allah bakal hadir diseluruh penjuru peristiwa yang kita alami. Didalamnya ada dzikirullah dan do’a, yang mengalir sepanjang tarikan dan hembusan nafas kita. Tidak ada lagi waktu yang terbuang percuma. Seluruhnya berisi puji-pujian untuk mengagungkan DZAT yang maha perkasa, seiring tasbihnya bermiliar-miliar malaikat dan bertriliun  benda-benda di alam semesta. Itulah saat-saat kita terpesona di Sidratul Muntaha.
Karya_ Ir Agus Mustofa
terpesona di SIDRATUL MUNTAHA

Sabtu, 13 April 2013

Ia Wanita Yang Ada dalam Mimpi


Kisah Hikmah
Dari segi usia Shobar sudah cukup matang untuk membina rumah tangga. Pengabdiannya sebagai guru madrasah disebuah pondok pesantren tidak usah diragukan lagi, sebab ketika ia berstatus santri ia selalu memegang prinsip sami’na wa atho’na (kami mendengar dan kami menaati). Jadi tidak heran jika ia termasuk santri yang disayang. Disuruh mengisi pengajian ia berangkat, diminta mengisi khutbah jumat ia menurut, bahkan tidak segan bercocok tanam dan membagikan hasilnya kepada sang kiai.
            Musin nikah tahun ini ia termasuk salah seorang yang masuk radar panitia. Kasak-kusuk diantara santri yang berstatus ustadz tidak dapat dihindari, namun bagi Shobar semua itu dianggapnya angin lalu. Ia tidak ingin membicarakan nikah, yang terpenting baginya mengabdi, belajar, dan mengajar.
            Suatu ketika usai menunaikan sholat Isya ia dipanggil sang kiai,  ia didudukan didepan sang guru. “Shobar, kamu sudah waktunya menikah,” ujar sang kiai.
            “saya tidak mau menikah,” jawabnya spontan. “saya kesini bukan bermaksut untuk menikah, kiai. Saya kesini ingin belajar.”
            “tapi ini juga termasuk ketaatan yang aku ajarkan kepadamu.”
            Usai dari percakapan itu Shobar menjadi panas dingin. Ia mencoba menenang-nenangkan dirinya, tapi usahanya gagal. Jika ada perintah paling berat yang pernah ia terima, maka perintah menikah adalah amanah yang paling berat. Pada akhirnya waktu yang terus bergulir menghantarkan Shobar pada pelaminan. “Padahal waktu itu saya hanya modal celana kolor saja, mana uang dikantong juga kosong,’ ujarnya bercerita. Toh pada akhirnya terucap ijab-kabul bertanda sahnya pernikahan itu.
            Untuk pertama kalinya Shobar berhadapan-hadapan dengan wanita yang kini telah berstatus istri. Catat disini, pertama ia tidak pernah pacaran dan sama sekali tidak kenal dengan wanita yang kini dihadapannya. Kedua, karena ini perintah kiai, sehingga ia tidak berani berandai-andai sebab modalnya hanya ketaattan saja. orang bilang taat bongkoan. Ketiga, selanjutnya terserah mereka berdua.
            Tetapi Shobar terkejut setelah melihat wanita yang menjadi istrinya. Ia merasa tidak asing dengan wanita tersebut. Ia terbengong-bengong ketika memperhatikan sajadah sholat, dan kerudung sang istri. Ternyata ia adalah wanita yang beberapa kali pernah mengisi kembang tidurnya. Mimpi yang menjadi kenyataan.
            “jika kita taat dalam menjalankan perintah agama semua menjadi mudah,” ujar Shobar memberi petuah. Bahkan sangking mudahnya. Shobar termasuk yang paling cepat punya anak diantara sesama santri yang ikut mubarokah. dan sangking mudahnya, ia termasuk yang paling cepat punya menantu dan cucu, sebab anak pertamanya adalah perempuan.Nah…,?
Edisi Rabiul Awal 1433 H / Maret 2012