Jumat, 17 Januari 2014

Keutamaan Menengok Orang Sakit

Keutamaan Menengok Orang Sakit

            Banyak sekali hadits-hadits yang menjelaskan tentang fadhilat atau keutamaan menengok orang yang sedang sakit diantaranya :
            Hadits Jabir yang marfu’: “Barang siapa yang menjenguk orang sakit sama halnya dia dalam rahmat Allah, sehingga ketika ia duduk berarti ia masuk dalam rahmat.” (Bukhari dalam al-Adabul Mufrad, no : 522.)
            Ibnu Majah meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Siapa saja yang menjenguk orang sakit memanggillah seorang penyeru dari langit yakni malaikat langit “baik engkau, bagus perjalananmu, dan kamu telah menyediakan tempat tinggalmu didalam surge”. (Ibnu Majah dalam Al-Janaiz no : 1442. Tirmidzi no : 100 6).
            Riwayat dari Ali r.a. ia berkata saya pernah mendengar Nabi SAWbersabda : “Tiada seorang muslim yang menjenguk orang muslim lainnya di pagi hari kecuali ia telah didoakan oleh tujuh puluh ribu malaikat sampai esok harinya, dan baginya akan disediakan buah kurma yang dipetik di taman surge”. (HR.Tirmidzi)
(Semoga Bermanpaat)
Allahu a’lam Bisshawab.

Oleh    :  Ust. Muhammad Nurani
Buku   : Hadzimi Ladzat - Pemutus Kenikmatan Duniawi


Apa Saja yang dilakukan Ketika Kita Sakit.

Apa Saja yang dilakukan Ketika Kita Sakit.
            Jika seorang muslim sedang ditimpa suatu penyakit hendaklah ia bersabar dan bertawakkal karena akan menyebabkan terhapusnya dosa sebagaimana hadits nabi Muhammad Saw Ibnu Mas’ud berkata, “Saya  pernah masuk ketempat Rasulullah SAW, ketika beliau sedang sakit parah. Lalu saya belai beliau dengan tangan saya dan berkata, “Wahai Rasulullah, sakitmu sangat berat.’ Beliau menjawab, “benar, sebagaimana yang diderita oleh dua orang diantara kamu.’ Saya berkata, ‘Hal itu karena engkau mendapat dua pahala ?’ Beliau menjawab, ‘Benar.’ Kemudian beliau bersabda : tidak seorang muslim yang ditimpa suatu gangguan berupa penyakit atau lainnya, melainkan Allah menggugurkan dosa-dosanya sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya’.”(Al-Bukhari, hadits nomor 5660).
            Seseorang yang menderita sakit jangan lupa memperbanyak doa-doa karena sesudah sakit hanya dua ketentuan : Sembuh dan tidak sembuh yang berakhir dengan kematian.
            Agar kita tidak rugi ketika sakit baik berakhir dengan sembuh ataupun kematian, marilah kita bersama-sama membaca bacaan yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW, yang apabila kita kerjakan ketika sakit akan mendapat pahala dan dosa-dosa diampuni (InsyaAllah). Sebaliknya jika tidak sembuh (meninggal dunia) maka kita mati dalam keadaan khusnul khatimah (beriman) diantaranya :
a.       Memperbanyak membaca Surat Al-Ikhlas, Lebih baik lagi jika seratus kali
b.      Letakkan tanganmu di tempat yang terasa sakit lalu baca bismillah 3x kemudian baca lagi  A’udzu bi-izzatillahi  wa qudratihi min syarri ma ajidu wa-ubadziru 7x (HR. Muslim)
c.       Membaca Doa Nabi. Riwayat Muslim. Ya Allah berikanlah kami kebahagiaan didunia dan kebahagiaan diakhirat dan selamatkan kami dari adzab neraka
d.      Membaca Doa Nabi. Riwayat Tirmidzi. Ya Allah berikanlah aku kea’fiatan pada diriku dan  kea’fiatan pada penglihatanku, dan ya Allah jadikan kesehatanku sebagai jalan ku tuk menujumu tidak ada tuhan selain engkau yang bersipat bijaksana dan pemurah, maha suci Allah tuhan penguasa a’rasy, yang besar, dan semua pujian hanya tertentu milik Allah penguasa jagad alam.
e.       Membaca Surah Al-Ikhlas 3x Surah Al-Falaq dan An-Nas masing-masing 1x, kemudian hembuskan pada kedua telapak tangan kita lalu usapkan keseluruh badan kita, yang dimulai dari atas kepala, wajah dan kesemua anggota tubuh kita, lebih-lebih lagi pada anggota yang terasa sakit.
Begitulah yang dilakukan Nabi kita ketika beliau sakit, dan sewaktu beliau tidak kuasa  lagi melakukannya beliau suruh A’isyah ra yang memperbuat demikian. Begitulah yang diriwayatkan Imam Bukhari dalam kitab Shohihinya.
(Semoga Bermanpaat)
Allahu a’lam Bisshawab.

Oleh    :  Ust. Muhammad Nurani

Buku   : Hadzimi Ladzat - Pemutus Kenikmatan Duniawi

Minggu, 12 Januari 2014

Khitan Bagi Wanita_Membuat Wanita Memiliki Rasa Malu

Khitan Bagi Wanita_Membuat Wanita Memiliki Rasa Malu

Kaum Muslimin yang dirahmat Allah. Suatu hal yang tersembunyi bagi sebagian kaum muslimin adalah mereka tidak mengetahui hakikat khitan bagi wanita, padahal mereka memiliki adik perempuan, anak perempuan, keponakan perempuan, yang mana sebagaimana halnya dengan laki laki mereka juga ada syariat untuk di khitan.

Tahukah anda wahai saudara saudariku bagaimanakah khitan yang dilakukan oleh sebagian atau kalau mau dikatakan sebagian besar ahli medis di Negara kita?

Na’am, mereka hanya menyayat / melukai tidak memotong bagian khitan. Yang mana tentu ini tidak memberikan faedah bagi wanita yang dikhitan tadi. Apalagi sekarang sebagaimana yang dikatakan kalangan orentalis bahwa khitan pada wanita tidak perlu dilakukan bahkan termasuk sesuatu yang melanggar HAM. Lalu bagaimana kita menyikapi hal ini?

Pengertian Khitan
Khitan secara bahasa diambil dari kata (ختن ) yang berarti memotong. Sedangkan al-khatnu berarti memotong kulit yang menutupi kepala dzakar dan memotong sedikit daging yang berada di bagian atas farji (clitoris) dan al-khitan adalah nama dari bagian yang dipotong tersebut. (lihat Lisanul Arab, Imam Ibnu Manzhur).

Berkata Imam Nawawi, “Yang wajib bagi laki-laki adalah memotong seluruh kulit yang menutupi kepala dzakar sehingga kepala dzakar itu terbuka semua. Sedangkan bagi wanita, maka yang wajib hanyalah MEMOTONG sedikit daging yang berada pada bagian atas farji.”(Syarah Sahih Muslim 1/543, Fathul Bari 10/340)

Dalil Disyariatkannya Khitan

Khitan merupakan ajaran nabi Ibrohim ‘alaihissalam, dan umat ini diperintahkan untuk mengikutinya, sebagaimana dalam QS. An-Nahl: 123,

“Kemudian Kami wahyukan kapadamu (Muhammad), “Ikutilah agama Ibrohim, seorang yang hanif.”

Disebutkan dalam Tufatul Maudud, halaman 164 bahwa Saroh ketika menghadiahkan Hajar kepada nabi Ibrohim ‘alaihissalam , lalu Hajar hamil, hal ini menyebabkan ia cemburu. Maka ia bersumpah ingin memotong tiga anggota badannya. Nabi Ibrohim ‘alaihissalam khawatir ia akan memotong hidung dan telinganya, lalu beliau menyuruh Saroh untuk melubangi telinganya dan berkhitan. Jadilah hal ini sebagai sunnah yang berlangsung pada para wanita sesudahnya.

Dari Abu Harairah radhiyallahu’anhu Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ” lima hal yang termasuk fitroh yaitu: mencukur bulu kemaluan, khitan, memotong kumis, mencabut bulu ketiak, dan memotong kuku.” (HR. Imam Bukhori dan Imam Muslim)

Hukum Khitan bagi Wanita

a. Ulama yang mewajibkan khitan, mereka berhujjah dengan beberapa dalil:
1. Hukum wanita sama dengan laki-laki, kecuali ada dalil yang membedakannya, sebagimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari Ummu Sulaim radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wanita itu saudara kandung laki-laki.” (HR. Abu Daud 236, Tirmidzi 113, Ahmad 6/256 dengan sanad hasan).

2. Adanya beberapa dalil yang menunjukkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut khitan bagi wanita, diantaranya sabda beliau:

Apabila bertemu dua khitan, maka wajib mandi.” (HR. Tirmidzi 108, Ibnu Majah 608, Ahamad 6/161, dengan sanad shahih).

Dari ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha berkata, Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apabila seorang laki-laki duduk di empat anggota badan wanita dan khitan menyentuh khitan maka wajib mandi.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Dari Anas bin Malik rodhiyallahu’anhu berkata, Rosulullahi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Ummu ‘athiyah,”Apabila engkau mengkhitan wanita biarkanlah sedikit, dan jangan potong semuanya, karena itu lebih bisa membuat ceria wajah dan lebih disenangi oleh suami.”(HR. Al-Khatib)

3. Khitan bagi wanita sangat masyhur dilakukan oleh para sahabat dan para shaleh sebagaimana tersebut di atas.

b. Ulama yang berpendapat sunnah, alasannya:

Menurut sebagian ulama tidak ada dalil secara tegas yang menunjukkan wajibnya, juga karena khitan bagi laki-laki tujuannya membersihkan sisa air kencing yang najis yang terdapat pada tutup kepala dzakar, sedangkan suci dari najis merupakan syarat sahnya sholat.

Sedangkan khitan bagi wanita tujuannya untuk mengecilkan syahwatnya, jadi ia hanya untuk mencari sebuah kesempurnaan dan bukan sebuah kewajiban. (Syarhul Mumti’, Syaikh Ibnu Utsaimin 1/134)

Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah pernah ditanya, “Apakah wanita itu dikhitan ?” Beliau menjawab, “Ya, wanita itu dikhitan dan khitannya adalah dengan memotong daging yang paling atas yang mirip dengan jengger ayam jantan.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, biarkanlah sedikit dan jangan potong semuanya, karena itu lebih bisa membuat ceria wajah dan lebih disenangi suami.’

Hal ini karena, tujuan khitan laki-laki ialah untuk menghilangkan najis yang terdapat dalam penutup kulit kepala dzakar. Sedangkan tujuan khitan wnaita adalah untuk menstabilkan syahwatnya, karena apabila wanita tidak dikhitan maka syahwatnya akan sangat besar.” (Majmu’ Fatawa 21/114)

Jadi, khilaf mengenai hukum khitan ini ringan, baik sunnah atau wajib keduanya adalah termasuk syariat yang diperintahkan, kita harus berusaha untuk melaksanakannya.

Waktu Khitan

Terdapat beberapa hadits yang dengan gabungan sanadnya mencapai derajat hasan yang menunjukkan bahwa khitan dilaksanakan pada hari ke tujuh setelah kelahiran, yaitu:

1. Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu’anhuma, bahwasannya Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan aqiqah Hasan dan Husain serta mengkhitan keduanya pada hari ketujuh.(HR. Thabrani dan Baihaqi)

2. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhu berkata, “Terdapat tujuh perkara yang termasuk sunnah dilakukan bayi pada hari ketujuh: Diberi nama, dikhitan,…” (HR. Thabrani)

3. Dari Abu Ja’far berkata, “Fathimah melaksanakan aqiqah anaknya pada hari ketujuh. Beliau juga mengkhitan dan mencukur rambutnya serta menshadaqahkan seberat rambutnya dengan perak.” (HR. Ibnu Abi Syaibah)

Namun, meskipun begitu, khitan boleh dilakukan sampai anak agak besar, sebagaiman telah diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhyallahu’anhu, bahwa beliau pernah ditanya, “Seperti apakah engkau saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia ?” Beliau menjawab, “Saat itu saya barusan dikhitan. Dan saat itu para sahabat tidak mengkhitan kecuali sampai anak itu bisa memahami sesuatu.” (HR. Bukhori, Ahmad, dan Thabrani).

Berkata Imam Al-Mawardzi, ” Khitan itu memiliki dua waktu, waktu wajib dan waktu sunnah. Waktu wajib adalah masa baligh, sedangkan waktu sunnah adalah sebelumnya. Yang paling bagus adalah hari ketujuh setelah kelahiran dan disunnahkan agar tidak menunda sampai waktu sunnah kecuali ada udzur. (Fathul Bari 10/342).

Ya ikhwa ketahuilah, mungkin salah satu sebab diantara sekian banyak sebab hilangnya rasa malu dari diri kaum wanita belakangan ini adalah karena orang tua mereka meninggalkan syariat yang agung ini. Sehingga anak-anak mereka tidak stabil syahwatnya . Sebagaimana telah dibahas dimuka bahwasanya tujuan khitan wanita adalah untuk menstabilkan syahwatnya, karena apabila wanita tidak dikhitan maka syahwatnya akan sangat besar.

Dari berbagai Sumber.

***Wallahuallambisshawab***

Sabtu, 11 Januari 2014

Bingkisan Nur Inas ^_^

Samarinda, 13 Juli 2013
Dari : Nur Inas Purnama Sari



Assalamualaikum J
Selamat Hari Lahir yaa, Saudaraku J
¹ Umur Panjang ,
¹ Sehat Selalu ,
¹ Dewasa dalam berpikir, Berucap dan Bertindak.
Dan semoga Keberkahan selalu menyertaimu saudaraku J
***
J terimakasih banyak Nur Inas Purnama Sari, Tulisannya bagus tapi sayang masih bagus Tulisanku,haha

Hehe J Amiiinnnnnn,,, insya Allah akan aku simpan dan akan jaga baik – baik inas, warnanya juga bagus, sangat bermanpaat sekali soalnya kalau subuhan pasti aku pake buat hangatin, pokoknya kamu teman yang baik sekali J
Semoga kamu disana selalu dalam Lindungan, Bimbingan, dan Kasih sayang Allah Swt. Amiiinnn.
Salam Hangat dari sahabatmu, Alan Angga Nuari


Trp3_AyuNorwanda

banyak hal yang ingin aku ceritakan, tentang rasaku, tentang keinginan dan harapanku padamu. De, aku sayang sama kamu, sungguh sangat sayang sama kamu. Masih ada kah kesempatan itu ?
masih ada kah harapan itu disaat engkau acuhkan aku ? entahlah, yang aku tau ada rasa ingin bersamamu saat ini,.


Rabu, 01 Januari 2014

Semoga Setiap Istri Menjadi Seperti ini

Semoga Setiap Istri Menjadi Seperti ini
            Seorang penyair atas nama para suami yang sedang bersedih memberikan nasihat kepada para istri :

            Maafkan aku
            Dengan begitu kau akan melanggengkan rasa kasihku
Janganlah engkau angkat bicara ketika aku sedang di puncak amarah
Janganlah banyak mengadu sehingga rasa cintaku menjadi gersang
Karena  hati itu selalu terbolak-balik
Rasa cinta dan luka itu letaknya dalam hati
Jika keduanya berkumpul, cinta tidak akan tinggal dan segera pergi

Semoga Setiap Istri Menjadi Seperti ini …
Saat suami pulang kerumah dia mendapatkan senyuman istrinya menenangkan, membahagiakan jiwa, dan menyembuhkannya, Istri adalah pelayan yang dimintai tolong dalam menapaki kehidupan, Istri adalah cahaya dalam pelayanannya.
Suami adalah raja, rumah adalah kerajaannya, rasa cinta adalah parfum yang memenuhi setiap sudut ruangnya.

Senyuman … sebagai kebahagiaan
Pelayan … sebagai cahaya
Rasa Cinta … sebagai parfum

Inilah tipe istri yang didambakan oleh setiap suami
Setiap suami menantikan kehadirannya dalam rumah tangganya.
Rasulullah saw bersabda :
Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan (HR. Muslim)
Rasulullah saw juga bersabda :
Sesungguhnya Allah mewajibkan untuk selalu bersikap baik terhadap segala sesuatu. (HR. Muslim)
Wahai para istri … Jadikanlah dirimu cantik dihadapan suamimu, dengan begitu, suamimu akan mencintaimu dan Rabb-mu akan mencintaimu pula.
Wahai para istri … Perbaguslah dalam setiap yang kamu berikan kepada suamimu, baik yang kecil maupun yang besar.
Sesungguhnya Allah telah mewajibkan untuk selalu bersikap baik terhadap segala sesuatu. Baik yang kecil maupun yang besar.

(Asyraf syahin_ Menjadi Istri Penuh Pesona)

Tersenyumlah

Tersenyumlah
            Senyuman istri adalah penawar yang membahagiakan suami. Ia juga bisa menghilangkan kepayahan dan kepenatannya. Ia laksana cahaya yang menyinari setiap sudut rumah. Ia adalah jalan menuju kebahagiaan yang tiada terputus.
            Wahai para istri yang mulia…
¨      Senyumanmu kepada suami dan anak-anakmu merupakan cahaya bagimu dan bagi mereka. Oleh karena itu, tersenyumlah…!
¨      Senyumanmu di hadapan suami dan anak-anakmu merupakan sedekah bagimu. Maka dari itu, tersenyumlah…!
¨      Senyumanmu akan mampu menciptakan kegembiraan dan kebahagiaan. Sebab itu, tersenyumlah…!
Wahai istri yang mulia,

Tiada seorang pun yang lebih berhak melihat senyumanmu selain suami dan anak-anakmu.
Oleh sebab itu, tersenyumlah…
Jadikan senyumanmu pemandangan pertama bagi suamimu saat dia bangun.
Jadikan ia pemandangan pertama baginya saat dia pulang ke rumah.
Jadikan ia pemandangan terakhir baginya sebelum dia tidur. Dengan begitu, rumah tanggamu akan di penuhi dengan cinta dan keharmonisan.


(Asyraf Syahin_ Menjadi Istri Penuh Pesona)